Harga Minyak Naik di Tengah Penundaan Tarif AS pada Meksiko
CHICAGO, investortrust.id - Harga minyak naik tipis dalam perdagangan yang berflukutasi pada Senin (3/2/2025) karena pelaku pasar mencerna rencana pengenaan tarif impor oleh Presiden AS Donald Trump terhadap Kanada, Meksiko, dan China.
Harga minyak mentah Brent pengiriman April naik 29 sen (0,4%) dari harga penutupan kontrak Jumat (31/1/2025) pada US$ 75,96 per barel. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) acuan AS naik 63 sen atau 0,9% menjadi US$ 73,16.
Kekhawatiran impor dari dua pemasok minyak mentah utama ke AS telah mendorong harga naik lebih US$ 1 per barel pada awal sesi sebelum Trump membatalkan sementara tarif baru terhadap Meksiko selama 1 bulan. Pasalnya, Meksiko setuju memperkuat perbatasan utara guna membendung aliran obat-obatan terlarang, khususnya fentanil.
Baca Juga
Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum pada Senin (3/2/2025) mengumumkan pihaknya berbicara dengan Presiden AS Donald Trump dan menyetujui penghentian sementara tarif AS. Meksiko akan mengirim 10.000 tentara ke perbatasan AS untuk mencegah perdagangan narkoba lintas negara dan migrasi ilegal.
Trump di platform Truth Social miliknya menulis bahwa negara-negara tersebut sepakat untuk menghentikan tarif selama 1 bulan. Negosiasi dilakukan dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Menteri Keuangan AS Scott Bessent, dan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick.
Rencana tarif yang akan diberlakukan Trump terhadap barang-barang dari Meksiko, Kanada, dan China pada Selasa (4/2/2025) mengancam perang dagang yang dapat menghambat pertumbuhan global dan memicu kembali inflasi.
Tarif yang diusulkan mencakup pungutan sebesar 25% pada sebagian besar barang Meksiko dan Kanada. Sementara untuk impor energi Kanada diterapkan tarif 10%. Adapun pada impor China, diterapkan tarif sebesar 10%.
“Tarif impor energi Kanada kemungkinan akan lebih mengganggu pasar energi AS dibandingkan tarif impor Meksiko, bahkan kontraproduktif terhadap salah satu tujuan utama presiden menurunkan biaya energi,” kata analis Barclays Amarpreet Singh dalam sebuah catatan.
Baca Juga
Menurut Departemen Energi AS, Kanada dan Meksiko menyumbang sekitar seperempat dari minyak yang diolah oleh penyulingan minyak AS menjadi bahan bakar, seperti bensin dan minyak pemanas.
Sementara manufaktur AS tumbuh untuk pertama kalinya dalam 2 tahun pada Januari, tetapi pemulihan kemungkinan tidak berlangsung lama karena tarif Trump, berpotensi meningkatkan harga bahan mentah dan mengganggu rantai pasokan.
Presiden Federal Reserve Boston Susan Collins mengatakan, tarif yang diumumkan pemerintahan Trump dapat meningkatkan inflasi dan ketidakpastian. Namun, tidak ada urgensi bagi bank sentral AS untuk mengubah arah kebijakan moneter.
Inflasi tinggi dapat mendorong The Fed menaikkan suku bunga guna mengatasi kenaikan harga. Hal itu dapat mengurangi permintaan energi karena meningkatkan biaya pinjaman dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Adapun Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, seperti Rusia, atau dikenal OPEC+, sepakat tetap meningkatkan produksi minyak secara bertahap mulai April
Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak mengatakan, Komite Pemantauan Menteri Gabungan (JMMC) dari kelompok OPEC+ membahas seruan Trump untuk meningkatkan produksi minyak.

