Ini Pendorong Laju Harga Minyak Dunia Berlanjut Bullish
JAKARTA, investortrust.id - Mengawali pembukaan pekan pagi ini, Senin (13/1/2025) harga minyak terpantau melaju naik (bullish) ke level US$ 81,24. Kenaikan ini didukung oleh sentimen dari potensi pengetatan pasokan minyak dari Rusia dan Iran ke pasar global di bawah sanksi baru yang dijatuhkan oleh AS.
Meski demikian, komitmen Rusia untuk tetap melanjutkan proyek energi, dan sinyal positif kemajuan pembicaraan Gaza membatasi kenaikan harga lebih lanjut.
Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) yang diterbitkan Senin, (13/1/2025) menyebutkan, utusan khusus Presiden terpilih AS Donald Trump untuk Ukraina dan Rusia, Keith Kellogg, pada hari Sabtu mendesak agar dunia kembali memberlakukan kebijakan tekanan maksimum terhadap Iran, terutama pada sektor industri minyaknya, guna mengubahnya menjadi negara yang lebih demokratis.
"Di hari yang sama, Iran menggelar latihan pertahanan udara dan mengatakan bahwa negara itu bersiap menghadapi ketegangan lebih lanjut dengan Israel dan AS, ungkap media pemerintah," tulis riset ICDX.
Baca Juga
Selain itu, perusahaan penyulingan minyak di China dan India akan mengambil lebih banyak minyak dari Timur Tengah, Afrika, dan AS, akibat sanksi terbaru AS terhadap Rusia yang membatasi pasokan ke pasar Asia, dan berpotensi meningkatkan harga dan biaya pengiriman. Sanksi tersebut akan secara signifikan mengurangi jumlah armada kapal tanker yang digunakan untuk mengirim minyak mentah dari Rusia dalam jangka pendek.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia pada hari Sabtu mengecam sanksi baru AS terhadap sektor energi Rusia yang berisiko mengganggu stabilitas pasar global dan menegaskan bahwa sekutu dari OPEC itu akan terus melanjutkan proyek besar di sektor minyak dan gas. Sebelumnya Departemen Keuangan AS pada hari Jumat menjatuhkan sanksi pada Gazprom Neft dan Surgutneftegas, yang mengeksplorasi, memproduksi, dan menjual minyak serta 183 kapal yang telah mengirimkan minyak Rusia.
Baca Juga
Sinyal Positif Pertumbuhan Ekonomi China Dorong Laju Harga Minyak
"Turut membebani pergerakan harga, Presiden AS Joe Biden pada hari Minggu menghubungi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu via telepon dan mendesak agar kesepakatan penyanderaan dan gencatan senjata Gaza dapat segera tercapai sebelum Biden meninggalkan jabatannya pada tanggal 20 Januari," ulasnya.
Netanyahu mengisyaratkan kemajuan positif dalam pembicaraan dan telah memberikan mandat kepada delegasi keamanan tingkat tinggi Israel yang tiba di Qatar pada hari Minggu untuk melanjutkan pembicaraan tersebut.
Melihat dari sudut pandang teknis, ICDX memperkirakan harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 80 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 76 per barel.

