Sinyal Positif Pertumbuhan Ekonomi China Dorong Laju Harga Minyak
JAKARTA, investortrust.id - Mengawali pembukaan pekan pagi ini, Senin (6/1/2025) harga minyak terpantau masih melanjutkan tren bullish (naik) mendekati level US$ 75 per barel. Beberapa katalis positif yang menjadi pendorong antara lain ekspektasi meningkatnya permintaan China dan gangguan pasokan energi di AS akibat musim dingin yang ekstrem.
Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) memaparkan China berencana meluncurkan 15 langkah kebijakan untuk memperkuat pembangunan infrastruktur logistik seperti pelabuhan dan pusat penerbangan di wilayah provinsi barat.
"Wilayah barat tersebut mencakup sekitar dua pertiga wilayah daratan negara itu dan mencakup wilayah-wilayah seperti Sichuan, Chongqing, Yunnan, Xinjiang, dan Tibet. Berita tersebut memicu ekspektasi akan turut mendorong meningkatnya aktivitas perjalanan yang juga berdampak pada peningkatan permintaan bahan bakar di negara importir minyak terbesar pertama dunia itu," tulis riset ICDX yang diterbitkan hari ini, Senin (6/1/2025).
Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) memaparkan China berencana meluncurkan 15 langkah kebijakan untuk memperkuat pembangunan infrastruktur logistik seperti pelabuhan dan pusat penerbangan di wilayah provinsi barat.
"Wilayah barat tersebut mencakup sekitar dua pertiga wilayah daratan negara itu dan mencakup wilayah-wilayah seperti Sichuan, Chongqing, Yunnan, Xinjiang, dan Tibet. Berita tersebut memicu ekspektasi akan turut mendorong meningkatnya aktivitas perjalanan yang juga berdampak pada peningkatan permintaan bahan bakar di negara importir minyak terbesar pertama dunia itu," tulis riset ICDX yang diterbitkan hari ini, Senin (6/1/2025).
Baca Juga
Harga Minyak Melaju Naik Dipicu Optimistis Pemulihan Ekonomi China
Masih dari China, survei terbaru sektor swasta PMI Caixin yang dirilis hari Senin menunjukkan aktivitas jasa di negara itu naik menjadi 52,2 pada bulan Desember dari 51,5 pada bulan sebelumnya. Laju pertumbuhan tersebut merupakan yang tercepat sejak Mei 2024. Hasil survei itu juga sejalan dengan PMI resmi yang dirilis minggu lalu, yang menunjukkan aktivitas non-manufaktur bulan Desember pulih menjadi 52,2 dari 50,0 pada bulan November.
Turut mendukung pergerakan harga, badai musim dingin diperkirakan akan melanda 40 negara bagian AS pada minggu depan dan berpotensi menyebabkan pemadaman listrik besar-besaran serta meningkatkan permintaan gas alam ke level tertingginya di musim dingin. "Lonjakan permintaan itu disebabkan oleh menurunnya pasokan gas alam akibat pembekuan di sumur serta jalur pipa minyak dan gas," ulas riset ICDX.
Baca Juga
Sementara itu, data terbaru yang dirilis oleh LSEG Oil Research memaparkan impor minyak mentah Asia sepanjang tahun 2024 mengalami penurunan sebesar 1,4% menjadi 26,51 juta bph, yang menandai penurunan tahunan pertama dalam kurun tiga tahun. LSEG juga menambahkan, penurunan permintaan di wilayah pengimpor minyak utama dunia itu sebagian besar disebabkan oleh melemahnya permintaan di China dan pembeli utama Asia lainnya, kecuali India yang mencatatkan sedikit peningkatan.
Melihat dari sudut pandang teknis, ICDX memproyeksikan harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 76 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 72 per barel.

