Seruan Trump Pada OPEC Lemahkan Harga Minyak
JAKARTA, investortrust.id - Pada penutupan pekan, Jumat (24/1/2025) pagi ini harga minyak dunia terpantau mengalami penurunan ke posisi US$ 77,95 per barel Jumat (24/1/2025).
Dalam riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX), penurunan harga minyak didukung oleh potensi pengetatan pasokan Rusia. Namun, tekanan turun masih cukup kuat di bawah tekanan dari sejumlah sentimen, mulai dari desakan Trump agar OPEC menurunkan harga hingga ancaman perang dagang baru antara AS dengan China.
“Biaya pengiriman minyak dari pelabuhan Timur Jauh Kozmino telah melonjak lima kali lipat yang dipicu oleh kekurangan kapal tanker pasca sanksi baru AS,“ tulis riset ICDX Jumat, (24/1/2025).
Di mana tarif angkutan untuk pengiriman minyak ke China telah melonjak menjadi US$ 6,5 juta-7,5 juta dari US$ 1,5 juta rata-rata pada akhir tahun lalu. Untuk pengiriman ke India juga melonjak menjadi sekitar US$ 9-10 juta dari akhir tahun 2024 yang berada di bawah US$ 3 juta, ungkap sumber tersebut.
“Kondisi tersebut memicu kekhawatiran akan memperketat pasokan minyak Rusia ke pasar global,” tulis riset tersebut.
Baca Juga
Berbicara di WEF Davos, Trump Minta Suku Bunga dan Harga Minyak Diturunkan
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, pada hari Kamis mengatakan bahwa ia akan menuntut Arab Saudi dan OPEC untuk menurunkan biaya minyak mentah, serta meminta Saudi untuk meningkatkan paket investasi AS menjadi US$ 1 triliun dari $600 miliar.
Turut membebani pergerakan harga, John Moolenaar, ketua Partai Republik dari komite khusus DPR untuk China, pada hari Kamis mengusulkan RUU bipartisan yang mencakup pencabutan status perdagangan istimewa China dengan AS, memberlakukan tarif tinggi secara bertahap, dan mengakhiri pengecualian "de minimis" untuk impor China yang bernilai rendah.
ICDX menilai, berita tersebut menambah kekhawatiran akan potensi perang dagang baru antara dua ekonomi raksasa dunia itu.
Baca Juga
“Di sisi pasokan, dalam laporan mingguan yang dirilis Kamis malam oleh badan statistik EIA menunjukkan stok minyak mentah turun sebesar 1,02 juta barel untuk pekan yang berakhir 10 Januari, lebih rendah dari ekspektasi yang memperkirakan stok akan turun sebesar 2,1 juta barel,” ulasnya.
Terkait stok bensin, dilaporkan naik sebesar 2,3 juta barel. Laporan EIA tersebut mengindikasikan permintaan di pasar energi AS tidak sekuat yang diperkirakan.
Melihat dari sudut pandang teknis, ICDX memperkirakan harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 77 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 72 per barel.

