Bagikan

OPEC Tidak Mungkin Menyerah pada Tekanan Trump yang Ingin Harga Minyak Murah


NEW YORK, investortrust.id -  Presiden AS Donald Trump memaparkan kebijakan energinya dalam pidato di Forum Ekonomi Dunia (WWF) pada 23 Januari 2025 dan mendesak OPEC menurunkan harga minyak dalam upaya mengakhiri perang Rusia di Ukraina. Namun, Trump kemungkinan tidak akan merealisasikan keinginannya karena beberapa alasan. 

“Saya juga akan meminta Arab Saudi dan OPEC untuk menurunkan harga minyak. Anda harus menurunkan. Jika harga turun, perang Rusia-Ukraina akan berakhir. Saat ini, harganya cukup tinggi sehingga perang itu akan terus berlanjut," kata Trump dalam pidato itu dilansir Oil Price, Kamis (30/1/2025).

Baca Juga

Seruan Trump Pada OPEC Lemahkan Harga Minyak


Dengan turunnya harga minyak, kata Trump, pihaknya akan menuntut agar suku bunga segera turun. "Demikian pula, suku bunga harus turun di seluruh dunia. Suku bunga harus mengikuti kita, ”tambahnya," kata Trump.

Penulis sekaligus peneliti di Safehaven Alex Kimani mengatakan, sebenarnya Trump meminta OPEC menggunakan harga minyak guna mencapai tujuan kebijakan luar negeri dan ekonomi AS. 


Namun, Standard Chartered (StanChart) berpendapat, Trump tidak mungkin merealisasikan keinginannya karena sejumlah alasan. Menurut para ahli komoditas, hubungan antara harga minyak rendah dan tujuan kebijakan luar negeri suatu negara bukan hal baru.


Para sejarawan telah menarik hubungan antara jatuhnya harga minyak pada 1985-1986 dan runtuhnya Tembok Berlin pada November 1989, serta pembubaran Uni Soviet pada Desember 1991. 


Namun, StanChart menunjukkan, efek geopolitik jatuhnya harga minyak pada 1985 jelas tidak instan. Untuk meniru pengalaman pada 1980-an, harga minyak OPEC rata-rata 47% lebih rendah pada 1986-1989 dibandingkan pada 1980-1985. Penurunan serupa sebesar 47% dari rata-rata Brent pada 2024, akan membuat harga minyak mendekati US$ 40 per barel, harga yang hampir pasti akan menggagalkan agenda energi domestik AS. 

Baca Juga

Proyeksi Pasokan EIA hingga Ancaman Tarif Trump Picu Pelemahan Harga Minyak

Memang, menteri energi Arab Saudi dan beberapa mitranya di OPEC+ mengadakan pembicaraan menyusul seruan Trump untuk menurunkan harga minyak. Namun, para delegasi mengatakan, pertemuan pada 3 Februari tidak mungkin menyesuaikan rencana saat ini untuk meningkatkan produksi mulai April 2025.

StanChart berpendapat, keputusan OPEC+ menunda peningkatan produksi selama 3 bulan hingga April 2025 dan memperpanjang penghentian penuh selama 1 tahun hingga akhir 2026, akan memastikan pasar minyak tidak kelebihan pasokan pada 2025. 

StanChart memperkirakan peningkatan permintaan minyak global pada 2025 sebesar 1,31 juta barel per hari, dengan pertumbuhan pasokan non-OPEC mencapai 0,96 juta barel per hari. 

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024