Harga Minyak Anjlok Hampir 3%, Pasar Antisipasi Kenaikan Pasokan OPEC+ dan Tekanan Tarif Trump
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id — Harga minyak global kembali tergelincir, mencerminkan sentimen hati-hati pasar atas kombinasi kenaikan pasokan OPEC dan eskalasi kebijakan tarif AS.
Baca Juga
Harga Minyak Terseret Ancaman Tarif Trump dan Lonjakan Stok AS
Pada Kamis (1/8/2025) waktu AS, minyak mentah Brent untuk pengiriman bulan depan ditutup merosot 2,83% ke $69,67 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun 2,79% menjadi $67,33. Anjloknya harga terjadi setelah tiga sumber internal menyebutkan OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, tengah mendekati kesepakatan untuk menambah produksi sekitar 548.000 barel per hari mulai September.
Seorang sumber keempat menyebut pembahasan volume masih berlangsung, dan tidak menutup kemungkinan kenaikan yang lebih kecil. Spekulasi pasar terhadap penambahan pasokan ini terjadi bersamaan dengan ketegangan geopolitik akibat langkah terbaru Gedung Putih.
Presiden Donald Trump pada Kamis menandatangani perintah eksekutif yang memberlakukan tarif antara 10% hingga 41% atas produk dari puluhan negara yang gagal mencapai kesepakatan dagang menjelang tenggat 1 Agustus. Daftar tersebut mencakup Kanada, India, dan Taiwan, sementara negara seperti Jepang, Inggris, dan Uni Eropa berhasil lolos dari sanksi.
Baca Juga
Trump Modifikasi Tarif Jelang ‘Deadline’, Barang Transshipment Kena Bea 40%
Menurut Suvro Sarkar, analis energi dari DBS Bank, penurunan harga minyak dalam beberapa hari terakhir juga mencerminkan sensitivitas pasar terhadap dinamika tarif. “Kemajuan pembicaraan dagang dengan Tiongkok bisa menjadi pemicu rebound harga,” ujarnya, seperti dikutip CNBC.
Namun, dukungan harga juga muncul dari sisi risiko. Trump mengancam tarif sekunder sebesar 100% terhadap negara-negara yang membeli minyak mentah dari Rusia, termasuk Tiongkok dan India — dua konsumen minyak terbesar setelah AS.
“Tidak mungkin ada alternatif penuh untuk suplai Rusia,” ujar Carsten Fritsch dari Commerzbank. Sementara itu, JP Morgan menilai bahwa sanksi semacam ini dapat mengancam sekitar 2,75 juta barel ekspor minyak Rusia via laut per hari.
Situasi ini menciptakan tekanan ganda di pasar energi: oversuplai dari OPEC dan potensi undersuplai dari Rusia — dua arah yang sama-sama mengancam stabilitas harga.

