Harga Minyak Merosot Dibayangi Ancaman Tarif Trump ke Rusia
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak dunia pada Kamis (23/1/2025) pagi melemah 0,3% ke US$ 78,79 per barel dibebani sejumlah sentimen negatif, yakni kekhawatiran memburuknya hubungan dagang AS dengan China, ancaman tarif Presiden AS Donald Trump terhadap Rusia, dan laporan stok terbaru American Petroleum Institute (API).
Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) memaparkan, menurut survei tahunan terbaru yang dirilis Kamar Dagang AS (AmCham), sekitar 51% dari 368 perusahaan AS di China khawatir memburuknya hubungan dagang antara AS dengan China di masa mendatang. Kekhawatiran tersebut sekaligus merupakan level tertinggi dalam 5 tahun.
Baca Juga
Proyeksi Pasokan EIA hingga Ancaman Tarif Trump Picu Pelemahan Harga Minyak
Ketua AmCham China Alvin Liu mengatakan, kestabilan hubungan antara kedua negara ekonomi terbesar dunia ini sangat penting karena turut memengaruhi kestabilan ekonomi global. "Trump pada Rabu mengatakan akan menambahkan tarif baru dalam daftar sanksi terhadap Rusia jika tidak mengakhiri perang dengan Ukraina. Hal itu dapat diterapkan pada negara lainnya yang terlibat," tulis riset harian ICDX Kamis, (23/1/2025).
Di sisi pasokan, laporan mingguan terbaru API menunjukkan, stok minyak mentah meningkat 1 juta barel pada pekan yang berakhir 10 Januari. Untuk stok bensin mengalami kenaikan 5,39 juta barel. Laporan API tersebut mengindikasikan permintaan lesu di pasar energi AS. Meski demikian, pasar masih menanti laporan resmi versi pemerintah yang dirilis pada Kamis malam oleh Energy Information Administration (EIA).
"Sementara itu, China berencana memberikan perlakuan sama kepada lembaga keuangan asing, seperti lembaga keuangan domestik dalam menawarkan jenis layanan keuangan baru yang belum tersedia di negara tersebut di beberapa zona perdagangan bebas," ulasnya.
Baca Juga
Trump Dorong Peningkatan Produksi Energi, Harga Minyak Anjlok
Mengacu pada pedoman yang diterbitkan bersama oleh lima lembaga pemerintah, China berencana memfasilitasi transfer dana masuk dan keluar terkait investasi asing di wilayah, seperti Beijing dan Shanghai.
ICDX memperkirakan harga minyak berpotensi ke posisi resistance terdekat di level US$ 78 per barel. Apabila menemui katalis negatif, harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 73 per barel.

