Cimory (CMRY) Jelang Kebijakan Cukai Minuman Berpemanis, Sahamnya masih Layak Dilirik?
JAKARTA, investortrust.id – Tingkat pertumbuhan kinerja keuangan PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) atau Cimory diprediksi tetap kuat tahun ini, meski pemerintah merencanakan penerapan pajak minuman berpemanis mulai pertengahan tahun ini.
Pajak pemanasi adalah cukai yang dikenakan pada minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK). Pajak ini bertujuan untuk mengurangi konsumsi gula berlebih di masyarakat.
“CMRY telah mulai mengantisipasi penerapan kebijakan cukai minuman pemanis dengan proaktif menguji coba produk minuman rendah gula. Produk ini diharapkan bisa memperkecil dampak cukai pemanis terhadap kinerja perseroan ke depan,” tulis tim riset Mandiri Sekuritas.
Baca Juga
Laba di Atas Ekspektasi, Target Harga Saham Cimory (CMRY) Direvisi Naik
Selain itu, Mandiri Sekuritas menilai, Cimory (CMRY) secara tidak langsung diuntungkan atas penerapan program makan bergizi gratis (MBG).
Sejumlah faktor tersebut mendorong Mandiri Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham CMRY dengan target harga Rp 5.800. Target harga tersebut juga mempertimbangkan upaya perseroan untuk memperbesar bahan baku susu dari dalam negeri hingga mencapai 20% melalui kemitraan dengan petani.
Sumber: Sucor Sekuritas
Pandangan hampir senada diungkapkan analis Sucor Sekuritas Clara Nathania. Menurut dia, kebijakan cukai minuman berpemanis tak berdampak besar bagi perseroan. “Dengan asumsi dikenakan tarif 2,5%, harga jual produk perseoran akan naik sekitar Rp 200-625 per produk. Angka tersebut tak signifikan bagi konsumen perseroan yang berasal dari kalangan menengah atas atau segmen premium,” tulisnya dalam riset yang dirilis kemarin.
Kebijakan cukai minuman berpemanis tersebut direncanakan diterapkan pada semester II tahun ini, namun hingga kini belum ada kesepakatan terkait tarif. Beberapa usulan, cukai tahap awal dikenakan 2,5% dan dinaikkan secara bertahap hingga 20% untuk jangka waktu tertentu. Ada juga usulan pengenaan tarif sebanyak Rp 1.500 per liter untuk minuman dan mencapai Rp 2.500 per liter untuk sirup.
Baca Juga
Belum Bisa Dilaksanakan Merata, MBG Nikmati Tambahan Rp 100 Triliun
Selain berdampak minim terhadap margin keuntungan, dia mengatakan, perseroan didukung rencana peluncuran produk-produk baru setelah tahun lalu sukses meluncurkan yogurt sticks yang dipasarkan melalui ritel modern. Pemasaran produk tersebut akan diperluas ke ritel tradisional dengan harga lebih terjangkau.
Sedangkan perkiraan kinerja keuangan tahun lalu, Sucor Sekuritas menyebutkan, Cimory diprediksi berhasil mencatatkan pertumbuhan sesuai ekspektasi. Pendapatan diperkirakan bertumbuh 10-20% dengan margin kotor bisa mencapai 42-44%. Laba bersih tahun 2024 diprediksi naik 18,6% menjadi Rp 1,5 triliun.
Baca Juga
Istana Sebut Susu Bukan Menu Wajib Makan Bergizi Gratis, Minimal Seminggu Sekali
“Memasuki tahun 2025, kami memperkirakan laba bersih CMRY kembali bertumbuh dengan target Rp 1,8 triliun atau meningkat sebanyak 19%. Peningkatan didukung pertumbuhan volume penjualan bersamaan dengan peningkatan margin keuntungan terdorong normalisasi biaya produksi,” terangnya.
Berbagai faktor tersebut mendorong Sucor Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham CMRY dengan target harga Rp 6.500. Targe tersebut mengimplikasikan perkiraan PE tahun ini sekitar 29,4 kali. Target harga tersebut juga menggambarkan tingkat pertumbuhan laba lebih tinggi, dibandingkan kompetitor dan bran produk yang kuat di masyarakat.
Grafik Saham CMRY

