Istana Sebut Susu Bukan Menu Wajib Makan Bergizi Gratis, Minimal Seminggu Sekali
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi mengatakan bahwa susu bukan menu wajib makan bergizi gratis (MBG). Hal ini mengingat pasokan susu yang belum merata di seluruh daerah. Namun, menu susu setidaknya akan disediakan sekali setiap minggu.
"Paling sedikit itu seminggu sekali, tidak wajib susu itu, bukan menu wajib, karena suplai susu kan belum merata di setiap daerah," kata Hasan Nasbi dikutip dari Antara, Selasa (7/1/2025).
Hasan menjelaskan pemberian susu dilakukan dengan melihat kondisi masing-masing satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG). Susu dapat diberikan dalam menu MBG setidaknya sekali dalam seminggu, jika SPPG tidak berada di daerah penghasil susu sapi. Namun jika SPPG di daerah penghasil susu sapi atau berada dekat peternakan sapi, pemberian susu bisa dilakukan dua hingga tiga kali seminggu.
"Saya tanya tadi ke kepala SPPG, mereka itu sekali seminggu susunya. Dia bilang susu itu per hari Jumat, tetapi yang (SPPG) di Cimahi yang kita kunjungi, susunya di hari Senin," kata Hasan.
Baca Juga
Istana Ungkap Makan Bergizi Gratis di Sejumlah Daerah Pakai Uang Pribadi Prabowo
Hasan pun menceritakan bahwa salah satu SPPG di Cimahi, Jawa Barat, sudah memberikan susu dalam kemasan botol kaca, sebagai upaya mengelola sampah dan meminimalisasi limbah.
"Di Cimahi itu lebih dari sekali susunya dan dia pakai botol kaca karena di situ ada peternakan atau pabrik susu sapi. Jadi pakai botol kaca agar tidak menimbulkan limbah," kata Hasan.
Hasan mengatakan, menu makan bergizi gratis yang diberikan kepada anak-anak sekolah dan ibu-ibu hamil dirotasi setiap harinya menyesuaikan ketersediaan bahan baku di daerah masing-masing. Hasan menjelaskan tiap SPPG atau dapur MBG telah menyusun jadwal menu yang berbeda setiap harinya.
“Di setiap dapur itu sudah ada jadwal menunya, tetapi itu juga fleksibel bergantung ketersediaan bahan baku di sana. Pemasok-pemasok (bahan baku) nanti warga sekitar,” kata Hasan Nasbi.
Menu-menu yang standar untuk program makan bergizi gratis memang telah ditetapkan oleh pemerintah sehingga makanan yang dinikmati anak-anak, balita, ibu-ibu hamil, dan ibu-ibu menyusui tidak selalu ayam, atau ikan, tetapi bisa juga daging sapi atau telur.
“Tidak monoton terus-menerus seperti itu (menunya), dan di daerah yang khusus nanti bisa juga bahan pangannya bukan beras atau nasi,” jelas Hasan.
Hasan menekankan, pemerintah memastikan tiap porsi yang disajikan kepada anak-anak sekolah, ibu-ibu hamil, ibu-ibu menyusui, dan balita memiliki kandungan gizi dan besaran kalori yang cukup.
“Porsi makanan itu dihitung kecukupan kalorinya, karbohidrat, dan protein,” katanya.
Diketahui, makan bergizi gratis yang merupakan program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka mulai berjalan, Senin (7/1/2025). Terdapat sekitar 190 satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) atau dapur MBG yang beroperasi di 26 provinsi tersebut untuk menyediakan makanan bergizi untuk anak-anak sekolah dan ibu hamil.
Baca Juga
Fraksi Gerindra Dukung Utamakan Makan Bergizi Gratis Pelaku Usaha Lokal
Pemerintah menargetkan 937 dapur dapat beroperasi secara bertahap untuk melayani 3 juta penerima manfaat pada akhir Januari 2025. BGN juga menargetkan 2.000 dapur beroperasi di bulan April, 5.000 dapur di bulan Juli, dan seluruh dapur atau SPPG dapat beroperasi 100% pada 2029.

