Belum Bisa Dilaksanakan Merata, MBG Nikmati Tambahan Rp 100 Triliun
JAKARTA, investortrust.id - Badan Gizi Nasional (BGN) tidak memungkiri implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum merata akibat belum tercukupinya anggaran. Hal ini pula yang kemudian mendorong pemerintah untuk menambah anggaran pendanaan pelaksanaan program tersebut tahun ini.
Staf Khusus Badan Gizi Nasional Redy Hendra menyebutkan, butuh minimal Rp 100 triliun lagi untuk mencakup seluruh penerima manfaat program MBG yang berjumlah 82,9 juta orang.
“Hasil rapat terbatas kemarin, Pak Kepala Badan Gizi juga sudah menyampaikan bahwa akan ada rencana penambahan anggaran, perkiraannya sekitar bulan September (2025). Dan itu akan mencakup 82,9 juta orang. Penambahannya kira-kira sekitar Rp 100-120 triliun,” kata Redy dalam Focus Group Discussion tentang program Makan Bergizi Gratis, yang digelar Investortrust. Rabu (22/1/2025).
Redy memaparkan, tahap pertama program MBG untuk tahun 2025 menargetkan 17,8 juta orang dengan anggaran Rp 71 triliun, seperti yang tercantum dalam APBN 2025. Angka tersebut didesain oleh BGN bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
Pada rencana awal, sebanyak 5.000 satuan pelayanan akan melayani sekitar 17,8 juta orang penerima manfaat MBG. Saat ini BGN sudah mengoperasikan kurang lebih sekitar 230 satuan pelayanan, dengan penerima manfaat sekitar 600.000 orang.
Baca Juga
Kepala BGN Ungkap Prabowo Siapkan Anggaran Tambahan Rp 100 Triliun untuk MBG
“Jadi memang secara bertahap. Namun, Pak Presiden kemarin pasca rapat terbatas sudah menyampaikan bahwa ini akan dilakukan percepatan, tetapi kita masih kesulitan terkait fisik, terutama infrastruktur sarana dan prasarana,” ungkap Redy.
Disampaikan Redy, Prabowo menjadi sangat resah karena banyak orang tua yang komplain lantaran anak-anak mereka belum bisa ikut menikmati pelaksanaan program MBG.
“Itu luar biasa antusiasmenya. Dan itu membuat gundah Pak Presiden, dan kemarin dibahas di dalam ratas, dan sudah disampaikan juga ke publik bahwa Pak Presiden akan mempercepat program ini,” beber dia.
Nantinya, 82,9 juta penerima manfaat program MBG tersebut bukan hanya peserta didik. Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 83 Tahun 2024 tentang Badan Gizi Nasional, pihak yang menerima MBG adalah siswa atau peserta didik termasuk santri, kemudian ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
“Jadi 82,9 juta orang itu agregat dari dua kelompok penerima. Artinya 82,9 juta orang ini mencakup semua. Kalau untuk siswa saja datanya ada sekitar 64 juta orang,” terang Redy.
Terkait sumber tambahan anggaran Rp 100 triliun untuk program MBG ini, Redy mengaku belum mengetahuinya. Namun, dia berharap di akhir tahun 2025 ini seluruh penerima manfaat MBG bisa benar-benar tercover.
“Itu (penambahan anggaran Rp 100 triliun) sedang diusahakan sama Pak Presiden. Sumbernya, itu tidak disampaikan sumbernya dari mana, tapi Pak Presiden merasakan kegelisahan, sehingga Pak Presiden ingin mencoba. Mudah-mudahan di 2025 ini semua penerima manfaat targetnya sudah bisa tercakup,” sebut Redy.

