Kesepakatan Damai Gaza Tercapai, Harga Minyak Dunia Naik Jadi US$ 82,28 per Barel
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak pagi ini Kamis, (16/1/2025) terpantau naik US$ 82,28 per barel didorong oleh sentimen tercapainya kesepakatan gencatan senjata Gaza. Meski demikian, proyeksi positif OPEC dan kekhawatiran akan mengetatnya pasokan Rusia akibat sanksi baru dari AS berpotensi mendukung harga kembali menguat.
Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) mengungkapkan, kelompok Hamas dan Israel pada hari Rabu mencapai kesepakatan untuk melakukan gencatan senjata awal selama enam minggu dengan penarikan pasukan Israel secara bertahap dari jalur Gaza, yang menurut para mediator akan mulai berlaku pada hari Minggu.
“Kesepakatan tersebut menjadi sinyal positif yang menandai berakhirnya konflik yang telah berlangsung selama 15 bulan di kawasan Timur Tengah,” tulis riset ICDX yang ditebitkan hari ini, Kamis (16/1/2025).
Dalam laporan yang dirilis Rabu malam oleh EIA menunjukkan stok minyak mentah turun sebesar 1,96 juta barel, lebih besar dari prediksi awal yang memperkirakan stok akan turun sebesar 1,6 juta barel. Untuk stok bensin dilaporkan naik tak terduga sebesar 5,85 juta barel, melebihi prediksi awal yang memperkirakan stok akan naik sebesar 2,6 juta barel.
Baca Juga
Potensi Kelebihan Pasokan hingga Sinyal Perang Dagang AS dan China, Harga Minyak Dunia Naik Tipis
Sementara itu, OPEC pada hari Rabu merilis laporan bulanan yang memproyeksikan bahwa permintaan minyak global akan tumbuh sebesar 1,4 juta bph selama tahun ini dan tahun depan.
“Pertumbuhan permintaan dari India dan China secara total akan mencapai sekitar 550.000 bph tahun ini dan tahun depan, yang mewakili hampir 40% dari total pertumbuhan permintaan global,” ulasnya.
OPEC juga memperkirakan India berpotensi menyamai permintaan minyak China pada tahun 2026 nanti dengan pertumbuhan sebesar 270.000 bph.
Baca Juga
Harga Minyak Mentah Menguat, Pasar Fokus pada Ketatnya Pasokan Global
Turut mendukung pergerakan harga, Departemen Luar Negeri dan Keuangan AS pada hari Rabu memberlakukan sanksi pada lebih dari 250 target, termasuk beberapa yang berbasis di China, yang ditujukan pada penghindaran Rusia terhadap sanksi AS dan pangkalan industri militernya.
“Sanksi baru terhadap Rusia tersebut berpotensi memperketat pasokan Rusia ke pasar global,” urainya.
ICDX melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 81 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 76 per barel.

