Potensi Kelebihan Pasokan hingga Sinyal Perang Dagang AS dan China, Harga Minyak Dunia Naik Tipis
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak pagi ini, Rabu (15/1/2024) terpantau bergerak naik tipis level US$ 79,94 per barel. Hal ini didorong oleh sentimen pasca rilisnya proyeksi Badan Informasi Energi (EIA) akan potensi kelebihan pasokan serta menguatnya sinyal perang dagang antara AS dan China.
Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) Rabu, (15/1/2025) mengungkapkan, EIA memperkirakan harga minyak akan tertekan selama dua tahun ke depan karena pertumbuhan produksi global melampaui permintaan.
“Untuk minyak mentah Brent diprediksi turun 8% menjadi rata-rata US$ 74 per barel pada tahun 2025, kemudian turun lebih jauh menjadi US$ 66 per barel pada tahun 2026. Untuk minyak WTI diperkirakan mencapai rata-rata US$ 70 per barel pada tahun 2025 dan turun menjadi US 62 per barel tahun depan,” ulas riset tersebut
Di sisi produksi, EIA menaikkan estimasi rekor produksi minyak AS tahun ini, menjadi 13,55 juta bph, dari estimasi sebelumnya sebesar 13,52 juta bph. Sementara di sisi permintaan global diperkirakan mencapai rata-rata 104,1 juta bph pada tahun 2025, turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 104,3 juta bph, dan masih lebih rendah dari tren sebelum pandemi.
“Tak hanya itu, turut membebani pergerakan harga, sinyal perang dagang babak baru antara AS dan China semakin menguat pasca Departemen Keamanan Dalam Negeri AS pada hari Selasa mengumumkan pelarangan impor dari 37 perusahaan China karena terkait pelanggaran hak asasi manusia di Uighur,” ulasnya.
Baca Juga
Harga Minyak Mentah Menguat, Pasar Fokus pada Ketatnya Pasokan Global
Sementara itu, operator jaringan pipa bahan bakar terbesar di AS, Colonial Pipeline, pada hari Selasa mengatakan bahwa jalur utama yang mengalirkan bensin dari Gulf Coast AS ke East Coast telah ditutup sejak Senin malam karena potensi tumpahan bensin di Paulding County, Georgia.
“Penutupan jalur utama tersebut berpotensi menyebabkan gangguan distribusi pasokan sekitar 1,5 juta barel bensin per hari ke pasar domestik. Juru bicara perusahaan tidak memberikan kepastian waktu untuk memulai kembali operasi,” urainya.
Baca Juga
Sementara dari sisi pasokan, grup industri API melaporkan stok minyak mentah AS turun 2,6 juta barel dalam pekan yang berakhir 10 Januari, dan persediaan bensin naik 5,4 juta barel. Pasar masih menantikan laporan resmi versi pemerintah yang akan dirilis oleh EIA pada Rabu malam.
Melihat dari sudut pandang teknis, ICDX memproyeksikan harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 81 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 76 per barel.

