Pasar Cermati Kesepakatan Damai Rusia-Ukraina, Harga Minyak Tertekan di Level Terendah dalam 2 Bulan
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak bertahan di level terendah dalam dua bulan pada hari Rabu (26/02/2025) setelah peningkatan stok bahan bakar AS yang mengejutkan mengindikasikan lemahnya permintaan. Selain itu, potensi kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina terus menekan harga.
Baca Juga
Harga Minyak Kembali Meredup Dibayangi Potensi Target Baru Tarif Trump
Minyak mentah Brent turun 31 sen, atau 0,42%, menjadi $72,71 per barel, sedangkan minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS turun 20 sen, atau 0,29%, menjadi $68,73.
Persediaan bensin dan distilat AS meningkat secara tak terduga minggu lalu, meskipun stok minyak mentah mengalami penurunan yang tidak terduga akibat peningkatan aktivitas penyulingan, menurut Administrasi Informasi Energi AS pada hari Rabu.
"Tampaknya pasar tidak menyukai peningkatan stok distilat, yang mungkin juga disebabkan oleh ekspor produk olahan yang lebih rendah," urai Giovanni Staunovo, analis dari UBS, seperti dikutip CNBC.
Prospek kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina semakin meningkat, menurut catatan analis komoditas ING pada hari Rabu. Pasar sedang mengamati kemungkinan dampak dari perjanjian mineral antara AS dan Ukraina.
"Ini akan membawa kita selangkah lebih dekat menuju pencabutan sanksi terhadap Rusia, menghilangkan banyak ketidakpastian pasokan yang membebani pasar," tulis Staunovo dalam catatan tersebut.
Risiko penurunan harga minyak meningkat akibat kebijakan Trump, seperti inisiatif untuk mendukung peningkatan ekspor minyak Irak, menurut analis Saxo Bank, Ole Hansen. Kebijakan tarif Trump juga dapat memicu perang dagang dan memperlambat pertumbuhan ekonomi, tambahnya.
AS dan Ukraina telah menyepakati rancangan perjanjian mineral yang menjadi bagian dari upaya Trump untuk segera mengakhiri perang di Ukraina, menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut kepada Reuters pada hari Selasa.
Harga minyak terus tertekan oleh kekhawatiran bahwa keputusan Trump mengenai tarif terhadap China dan mitra dagang lainnya dapat menghambat pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga
Balas Trump, China Terapkan Tarif Tambahan Hingga 15% pada Sejumlah Produk AS
Hal ini mengurangi kekhawatiran tentang ketatnya pasokan minyak dalam jangka pendek, meskipun AS telah memberlakukan sanksi baru terhadap Iran, menurut catatan analis ANZ Bank.

