Harapan Kesepakatan Damai Ukraina Goyah, Harga Minyak Kembali 'Bullish'
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak pagi ini, Selasa (18/2/2025) terpantau bergerak terkoreksi menguat didukung oleh kerusakan di jaringan pipa CPC Kazakhstan jelang berlangsungnya perundingan damai Ukraina, dan potensi eskalasi tensi Iran dengan AS dan Israel. Meski demikian, komentar bantahan dari Novak serta dimulainya kembali ekspor minyak Kurdistan membatasi kenaikan harga lebih lanjut.
Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) menjelaskan, serangan tujuh pesawat drone yang menghantam stasiun pemompaan Kropotkinskaya di wilayah Krasnodar selatan, yang menyebabkan berkurangnya pasokan dari Kazakhstan ke pasar global yang dipompa oleh perusahaan-perusahaan energi besar termasuk Chevron dan Exxon Mobil.
"Meski tidak ada klaim bahwa pesawat drone itu berasal dari Ukraina, namun serangan itu meredupkan harapan tercapainya kesepakatan damai Ukraina dalam waktu dekat, karena terjadi tepat sehari sebelum Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dijadwalkan bertemu Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov di Arab Saudi untuk membahas kesepakatan tersebut," tulis riset ICDX, Selasa (18/2/2025).
Baca Juga
Serangan Drone Hantam Stasiun Pompa Kaspia, Harga Minyak Naik
Dukungan lainnya datang dari Iran yang menuding bahwa ancaman AS dan Israel merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan bahwa mereka tidak dapat berbuat apa-apa untuk menyakiti Teheran. Komentar bernada provokasi dari Iran tersebut memicu potensi eskalasi tensi yang mendorong pada kemungkinan penerapan sanksi lebih lanjut dari AS, terutama yang menargetkan sektor perminyakan Iran.
Sementara itu, OPEC dan sekutunya belum membahas kemungkinan untuk menunda peningkatan produksi minyaknya yang saat ini direncanakan akan dimulai pada bulan April.
"Pernyataan dari Novak tersebut sekaligus membantah berita yang beredar sebelumnya bahwa kelompok aliansi itu sedang mempertimbangkan untuk menunda peningkatan pasokan minyak secara bertahap, meskipun ada seruan dari Trump untuk menurunkan harga minyak," kata riset tersebut.
Baca Juga
Turut membebani pergerakan harga, pasca dihentikan sejak Maret 2023 akibat pertikaian antara Baghdad dan Erbil, ekspor minyak dari wilayah Kurdistan akan dilanjutkan kembali mulai minggu depan. "Berita tersebut mengindikasikan potensi kembalinya tambahan pasokan sebesar 300.000 bph dari wilayah Kurdistan ke pasar global," paparnya.
Melihat dari sudut pandang teknis, ICDX memproyeksikan harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 74 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 69 per barel.

