Harga Minyak Mentah Menguat, Pasar Fokus pada Ketatnya Pasokan Global
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak mentah global mengalami penguatan pada Selasa (14/1/2025) melanjutkan kenaikan dari hari sebelumnya. Minyak mentah Brent diperdagangkan di level US$ 80,79 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik ke US$ 78,66 per barel.
Penguatan ini didorong oleh sanksi baru pemerintah AS terhadap perusahaan minyak Rusia, seperti Gazprom Neft dan Surgutneftegas, serta 183 kapal tanker yang tergabung dalam "shadow fleet" Rusia. Sanksi ini diperkirakan dapat memangkas pasokan global hingga 700.000 barel per hari, menciptakan tekanan pada keseimbangan pasar di tengah ekspektasi berlanjutnya pemangkasan produksi OPEC+.
China, sebagai konsumen minyak terbesar kedua di dunia, memberikan sinyal positif bagi pasar minyak melalui data ekonomi yang kuat. Pada Desember 2024, surplus perdagangan China mencapai rekor tertinggi $990 miliar, didukung oleh lonjakan ekspor dan impor. Data ini memberikan harapan peningkatan permintaan minyak dari negara tersebut.
Baca Juga
Di sisi lain, pasar juga masih mencermati penguatan Dolar AS, yang didorong oleh laporan ketenagakerjaan yang solid di AS. Meskipun penguatan Dolar AS dapat membatasi kenaikan harga minyak, kekhawatiran terhadap pengetatan pasokan tetap menjadi pendorong utama kenaikan harga.
Para analis memproyeksikan harga minyak akan terus berada di tren positif dalam waktu dekat. Goldman Sachs memperkirakan harga Brent dapat mencapai US$ 85 per barel jika tekanan pasokan semakin kuat, terutama jika produksi Rusia dan Iran turun secara bersamaan. Dengan ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi, seperti sanksi tambahan terhadap Rusia dan tekanan Uni Eropa untuk menurunkan batas harga minyak Rusia, volatilitas pasar minyak diperkirakan akan tetap tinggi, memberikan peluang strategis bagi para pelaku pasar.
Baca Juga
"Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 84 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 72 per barel," tulis riset ICDX, Selasa (14/1/2025).

