Peta MI Penguasa AUM Bergeser Seiring Penurunan Kinerja Reksa Dana Saham
JAKARTA, investortrust.id – Masyarakat kini semakin kritis terhadap performa manajer investasi (MI). Bagi mereka terutama kalangan investor Generasi Z atau Gen Z, return atau hasil investasi merupakan syarat utama dalam memilih produk reksa dana.
Presiden Direktur PT Surya Timur Alam Raya (STAR AM) Hanif Mantiq menyampaikan, para investor bahkan memantau kinerja reksa dana setiap bulan bahkan harian, dan tanpa pikir panjang langsung mengambil keputusan redemption bila sebuah produk reksa dana mengalami penurunan return.
Sebaliknya, banyak diantara investor yang tidak lagi memperhitungkan tract record MI, pertimbangan utama adalah return dan return. MI mana yang mampu berkinerja lebih tinggi, maka produk reksa dana MI tadi yang dipilih.
Lebih lanjut, Hanif juga memaparkan bahwa terdapat pergeseran image dari seni pengelolaan dana (asset management), di mana tren pada beberapa tahun yang lalu adalah investor memilih manajer investasi terlebih dahulu baru menentukan reksa dana apa yang akan dituju.
Saat ini, mayoritas investor langsung membandingkan seluruh reksa dana dari berbagai manajer investasi dan mencari return mana yang terbesar untuk menjadi pilihan investasi. Kemudian, setelah menentukan reksa dana mana yang akan dibeli, investor akan terus memantau return tersebut tiap bulannya.
Baca Juga
STAR AM: Reksa Dana akan Tumbuh Pesat Bila Suku Bunga Acuan Turun 75 Bps
“Tapi, intinya adalah nasabah sekarang melihat what is your return (jangka pendek), tidak lagi melihat kinerja produk dalam jangka panjang sebagaimana nature reksa dana. Dia minta data kita month-on-month, bahkan harian” papar Hanif yang belum lama ini terpilih sebagai Ketua Umum Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII), saat audiensi dengan Pemimpin Redaksi Investortrust Primus Dorimulu, di Menara Tekno Jakarta, Rabu (18/9/2024).
Perubahan image pelaku pasar tadi berujung pada pergeseran peta atau landscape top MI dengan AUM terbesar. MI yang fokus pada instrumen pasar saham tidak lagi masuk dalam daftar top 3 MI dengan AUM terbesar, ini terjadi dalam satu dekade terakhir.
Dikatakan Hanif, nama-nama besar seperti Schroder, BNP Paribas AM maupun Mandiri Investasi yang selalu bertengger dalam top 3 MI pada era sebelum tahun 2013, dalam satu dekade terakhir ketiganya terlempar dari panggung bergengsi itu.
Sementara pada lain pihak, MI yang fokus menggarap dana kelolaan pada instrumen pendapatan tetap dan pasar uang justru melaju.
Berdasarkan data AUM Top 20 MI, tercatat Manulife AM bertengger di posisi teratas dengan jumlah dana kelolaan RP 45,13 triliun, disusul Bahana TCW di peringkat 2 dengan AUM Rp 43,98 triliun dan BRI-MI pada posisi ketiga dengan dana kelolaan Rp 31,86 triliun. Dalam 10 tahun terakhir, reksa dana favorit itu udah bukan lagi saham,” ujar Hanif.
Ia menyatakan, bahwa minat investor kepada reksa dana saham semakin memudar. Hal ini disebabkan oleh indeks harga saham gabungan (IHSG) yang dinilai belum naik signifikan selama 10 tahun terakhir. Sementara reksa dana pendapatan tetap dengan underlaying obligasi justru mendatangkan return lebih tinggi dan kembali menjadi favorit masyarakat sebagaimana sebelum tahun 2005.
“Kalau dulu, jaman 2013 gitu, almost 50% mungkin orang beli reksa dana saham. Nah sekarang reksa dana saham (porsi AUM) di bawah 20%. Dan kalau kita lihat memang 10 tahun terakhir kan (kinerja) IHSG nggak kemana-mana. Bahkan return-nya lebih jelek dari deposito. Kalau deposito 4%, mungkin return saham cuma 2% atau 3%,’’ urainya.
Baca Juga
STAR AM Beberkan Strategi Genjot AUM di Tengah Perubahan Tren Industri Reksa Dana
Menurutnya, porsi investasi nasabah pada reksa dana saat ini menuju kepada pendapatan tetap dan reksa dana proteksi dengan persentase masing masing 30% dan 20% dari jumlah AUM. Lebih lanjut, reksa dana pasar uang juga menjadi salah satu produk yang berkembang saat ini. “Jadi proteksi, fixed income, pasar uang porsi AUM sudah di atas 70%,’’ ujarnya.
Selain itu kecendrungan masyarakat Indonesia yang deposit minded menjadi faktor lain turunnya minat pada instrumen saham. Terlebih kondisi global dilanda ketidakpastian yang cukup Panjang, ini membuat banyak dana beralih ke instrumen safe haven, terutama emas. Fakta ini tampak dari rally harga emas yang cukup kencang dengan kenaikan hampir 20% secara year to date.
Lantas kapan reksa dana saham kembali berjaya? Hanif bilang kuncinya pada kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). ‘’Kita butuh IHSG terus all time high (ATH) ke level 8.000. Kalau masih di angka 7.800 sekalipun seperti saat ini belum membuat investor yakin untuk beralih ke reksa dana saham,’’ katanya.
Pamor Obligasi Korporasi
Daya tarik reksa dana berbasis obligasi korporasi kini makin tinggi lantaran return yang dihasilkan jauh lebih tinggi dibanding reksa dana saham atau yang memiliki underlaying asset pada surat utang negara.
Terlebih reksa dana saham dan obligasi negara dengan tenor 10 tahun sangat sensitif terhadap suku bunga. Dikatakan Hanif, ketika suku bunga naik 1% maka imbal hasil reksa dana dengan aset obligasi negara bisa turun 7%. "Makanya kalau tahun depan kita ekspek suku bunga bisa turun 1%, beli obligasi pemerintah, mungkin dari harganya saja bisa naik 7%. katanya
Dia lalu membandingkan dengan obligasi korporasi yang kemungkinan harga hanya 1% hingga 2% bila suku bunga turun 1%, sementara kupon yang diberikan bisa mencapai 9%-11% dengan tenor hanya 3 tahun untuk obligasi dengan rating A (single A).
Sementara untuk obligasi korporasi dengan rating AAA (triple A) kuponnya bisa sekitar 6%, dan dengan rating AA (double A) kuponnya mencapai 7%-8%. ‘’Tidak heran kalau saat ini MI berbondong-bondong mencari obligasi korporasi,’’ imbuh Hanif.

