STAR AM Beberkan Strategi Genjot AUM di Tengah Perubahan Tren Industri Reksa Dana
JAKARTA, investortrust.id – Perusahaan pengelola investasi, PT Surya Timur Alam Raya (STAR AM) berkomitmen mempermudah masyarakat dalam mengakses investasi pasar modal, khususnya instrumen reksa dana.
Salah satu terobosan yang dilakukan STAR AM yaitu, menggandeng platform keuangan digital, DANA. Kerja sama STAR AM-DANA resmi terjalin pada pertengahan Agustus 2024 lalu, di mana user DANA yang jumlahnya mencapai 180 juta bisa dengan mudah melakukan transaksi reksa dana kelolaan STAR AM dalam kanal kategori ‘finance’ pada aplikasi DANA.
Chief Executive Officer STAR AM Hanif Mantiq menyampaikan, langkah perluasan distribusi pada financial technology (fintech) tersebut berhasil mendongkrak jumlah investor STAR AM. ‘’Selama dua bulan sejak kami bekerja sama dengan DANA, jumlah investor STAR AM bertambah sebanyak 500 juta,’’ ujar Hanif, saat audiensi dengan Pemimpin Redaksi Investortrust Primus Dorimulu, di kantor STAR AM, Menara Tekno Jakarta, Rabu (18/9/2024).
Hanif optimistis perluasan kerja sama dengan DANA akan berdampak pada peningkatkan jumlah dana kelolaan atau asset under management (AUM) STAR AM.
Diakui nilai investasi user lewat Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) fintech memang bukan kelas besar, sebagaimana kanal distribusi perbankan yang umumnya berinvestasi di atas Rp 100 juta, sebab dana user dalam dompet digital dibatasi maksimal sebesar Rp 20 juta.
Meski begitu, dengan mengoptimalkan jumlah user DANA yang mencapai 180 juta diyakini bakal signifikan mendorong jumlah AUM. Untuk itu Hanif optimistis langkah ini akan membantu STAR AM masuk dalam daftar top 15 bahkan top 10 Manajer Investasi (MI) dengan dana kelolaan terbesar.
Hanif menyebut, saat ini jumlah dana kelolaan STAR AM yang merupakan anak usaha dari PT Aldiracita Sekuritas Indonesia tersebut, mencapai Rp 19 triliun, di mana sebesar Rp 8 triliun diantaranya berbentuk reksa dana, sedangkan sebagian besar atau sekitar Rp 11 triliun berbentuk Kontrak Pengelolaan Dana (KPD).
‘’Ke depan AUM dan jumlah investor produk reksa dana akan kita dorong dengan terus menambah APERD,’’ ujar Hanif yang belum lama ini terpilih sebagai Ketua Umum Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII).
Baca Juga
Sebagai catatan, posisi teratas jumlah AUM reksa dana saat ini dipegang oleh Manulife AM dengan jumlah Rp 45,13 triliun, Bahana TCW sebesar Rp 43,98 triliun dan BRI MI sebesar Rp 31,86 triliun. STAR AM sendiri berada di posisi ke-18 MI dengan jumlah AUM terbesar di Indonesia.
Di tempat yang sama Presiden Direktur PT Aldiracita Sekuritas Indonesia Rudy Utomo mengatakan, selain memperluas kanal distribusi, untuk memupuk AUM, STAR AM harus inovatif dengan memunculkan produk-produk tematik dengan perolehan return yang baik.
‘’Saat ini investor sangat sensitif terhadap performance reksa dana. Karena itu MI termasuk STAR AM harus terus meningkatkan kinerjanya,’’ ujar Rudy Utomo.
Pergeseran Top MI
Landscape MI pengelola AUM terbesar di Indonesia mengalami pergeseran dalam 10 tahun terakhir. Bila sebelumnya, nama-nama besar seperti Shcroders, BNP Paribas AM maupun Mandiri Investasi selalu bertengger dalam top 3 MI, maka dalam satu dekade terakhir ketiganya terlempar dari panggung bergengsi itu.
Schroders yang dulunya sulit digoyahkan dari Top 1 MI, saat ini posisinya turun ke peringkat 11 atau 12 MI. Hanif mengatakan pergeseran besar ini terjadi seiring kinerja pasar saham yang relatif stagnan dalam 10 tahun terakhir.
Return investasi di pasar saham bahkan disebut Hanif berada di bawah deposito. ‘’Bunga deposito bisa 4% per tahun, sementara return saham rata-rata hanya 2%-3%,’’ ujarnya. Kinerja buruk tadi membuat investor memindahkan dananya ke jenis reksa dana lain.
Karena itu kata Hanif, kalau pada 2023 AUM produk reksa dana saham dominan pada angka 50% dari total AUM, maka saat ini tersisa hanya 20%. Sementara pada sisi lain, porsi AUM reksa dana pendapatan tetap justru meningkat menggeser dominasi saham.
‘’Saat ini porsi AUM pendapatan tetap mencapai 30%, bahkan kalau digabung dengan reksa dana terproteksi dengan porsi AUM 20% maka reksa dana dengan undrelaying obligasi mencapai 50% dari total AUM,’’ imbuhnya.
Baca Juga
Dear Investor Pemula! Simak Empat Keunggulan Investasi di Reksa Dana Berikut
Perubahan tadi disebut Hanif menjadi penyebab turunnnya dana kelolaan Shcroders, BNP Paribas AM maupun Mandiri Investasi. ‘’Kita tahu para MI tadi terutama asing selama ini fokus dan memiliki keunggulan mengelola reksa dana saham,’’ ujarnya.
Adapun MI yang saat ini bertengger dalam top 3 MI memiliki selling point pada pengelolaan reksa dana berbasis surat utang maupun pasar uang.
‘’Jadi memang ada pergeseran (porsi AUM) dari reksa dana saham ke pendapatan tetap, itu trennya. Dan itu tidak di-capture oleh temen-temen MI asing, yang selama ini tetap fokus di saham saja. Tidak masuk ke yang new trend ini,’’ ulas Hanif.

