Tren Bergeser, Mengapa Investor Tinggalkan Reksa Dana Saham?
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana di Indonesia mencatat perlambatan dalam 4 tahun terakhir, dengan rata-rata pertumbuhan kurang dari 1% per tahun.
Data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan NAB reksa dana saham pada April 2025 hanya mencapai Rp 69,84 triliun, turun dari Rp 76,56 triliun pada Desember 2024. Perlambatan ini menjadi sorotan utama pelaku industri pasar modal karena menandakan perubahan pola investasi baik dari investor ritel maupun institusi.
Ketua Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII) Hanif Mantiq menilai turunnya minat pada reksa dana saham dipicu kurangnya tingkat pengembalian atau return. Pada 1 dekade lalu reksa dana saham sempat menjadi primadona karena mampu memberikan return dua digit, tetapi kondisi berbeda terjadi saat ini.
“Nah, nggak masuk ke zaman sekarang, yang return-nya agak ‘mini’ dibanding dengan produk reksa dana lainnya,” ujar Hanif dalam diskusi Road To Investment Manager Award yang digelar Investortrust.id di Jakarta, Rabu (20/8/2025).
Baca Juga
Selain faktor return, kebijakan terbaru juga ikut menekan pasar reksa dana saham. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 5 Tahun 2023 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Reasuransi membatasi ruang gerak investasi industri asuransi.
“Unit link sekarang kan nggak bisa langsung directly beli reksa dana saham. Akibatnya, teman-teman di asuransi me-redeem reksa dana sahamnya lalu memindahkan ke discretionary fund,” jelas Hanif.
Berdasarkan data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), portofolio investasi industri asuransi jiwa di reksa dana turun 10,5% secara tahunan. Porsinya kini hanya 12,2% atau senilai Rp 65,79 triliun. Sebaliknya, surat berharga negara (SBN) menjadi instrumen dominan dengan porsi 39,6% atau Rp 214,23 triliun, naik 12,9% dibandingkan tahun lalu.
Perbankan dan investor institusi alih arah
Hanif menambahkan, terjadi pergeseran produk yang ditawarkan perbankan. Jika sebelumnya reksa dana saham banyak dijual, kini obligasi lebih sering ditawarkan ke nasabah.
Institusi besar, seperti BPJS, Taspen, Asabri, dan Jiwasraya juga memangkas alokasi portofolio di reksa dana saham. “Return yang kurang menggembirakan membuat institusi mengurangi porsi saham,” kata Hanif.
Baca Juga
Eastspring Luncurkan Reksa Dana Syariah Mixed Asset Fund Gandeng Bareksa
Sementara Vice President Infovesta Utama Wawan Hendrayana menilai kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) selama 10 tahun terakhir, jika diakumulasi, masih lebih rendah dibandingkan deposito dan instrumen pendapatan tetap. Kondisi ini mendorong investor untuk mengalihkan dana ke produk yang lebih stabil.
“Bahkan untuk investor yang mau long term pun, melihat kinerja historis 10 tahun akan memilih jenis investasi yang memberikan kinerja konsisten,” jelas Wawan.

