STAR AM: Reksa Dana akan Tumbuh Pesat Bila Suku Bunga Acuan Turun 75 Bps
JAKARTA, investortrust.id – PT Surya Timur Alam Raya Asset Management (STAR AM) mengungkapkan, potensi pertumbuhan industri reksa dana akan berdampak positif atau tetap bertumbuh apabila suku bunga acuan bisa turun 75 basis point (bps) atau turun ke level 5,25% di tahun 2024.
Hal ini disampaikan oleh CEO STAR AM, Hanif Mantiq setelah meraih penghargaan Best Mutual Fund Awards 2024 yang diselenggarakan oleh PT Infovesta Utama (Infovesta) dan Investortrust.
“Pertumbuhan asset under management (AUM) itu biasanya meningkat signifikan ketika terjadi penurunan suku bunga acuan. Seperti kita ketahui, tahun kemarin itu suku bunga acuan Bank Indonesia naik ke level tertinggi di 6%. Kita harapkan di tahun ini sudah bisa turun minimal 75 basis poin,” kata Hanif di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (27/3/2024).
Penurunan suku bunga acuan, lanjut Hanif, juga akan berdampak positif terhadap pasar reksa dana, baik di saham maupun obligasi.
Baca Juga
Sukses di Reksa dana Indeks, STAR AM Akan Lansir Produk Baru Tahun Ini
Pada semester II-2024, The Federal Reserve (The Fed) mulai menurunkan fed fund rate (FFR). Langkah Bank Sentral AS akan diikuti oleh bank sentral emerging market, termasuk Bank Indonesia (BI). FFR yang saat ini 5,25%-5,50% akan turun ke level 4,50%-4,75%. Sedang BI rate yang kini 6% akan diturunkan ke level 5%.
“Ini harapan kita. Tapi, realisasinya masih tergantung pada Inflasi dan kurs rupiah. Jika rupiah bisa dijaga di level Rp 15.000 per dolar AS dan inflasi bisa dikendalikan di level 2,5% plus-minus 1%, suku bunga bisa segera diturunkan. Kebijakan BI mempertimbangkan FFR dan inflasi dalam negeri. Saat ini, rupiah masih bergerak melemah. Itu sebabnya, BI masih mempertahankan suku bunga acuan,” jelas CEO PT Investortrust Indonesia Sejahtera atau investortrust.id Primus Dorimulu.
Dari sisi tantangan maupun kendala yang diperkirakan di tahun ini, STAR AM mengungkapkan faktor utama yakni tantangan global.
“Saya kira kalau tahun ini, faktornya sudah positif semua. Karena faktor utama, politik (Pemilu) kan sudah selesai. Lalu, yang kedua adalah suku bunga yang turun. Hanya kalau misalnya kita mau lihat negatif, mungkin faktor global, terutama perang dan seterusnya” tandas Hanif.
Primus turut menjelaskan, beberapa tantangan global yang saat ini sedang terjadi seperti masalah geopolitik atau peperangan Rusia-Ukraina dan Palestina-Israel.
“Stabilitas politik sangat diperlukan karena ekonomi dunia belum benar-benar sembuh dari pukulan pandemi. Saat masalah produksi dan rantai pasok belum teratasi, datang masalah geopolitik,” jelas dia.
Pada tahun 2024, lanjut Primus, pertumbuhan ekonomi dunia sekitar 3,1% sama seperti tahun 2023. Sedangkan pada tahun 2025, diperkirakan pertumbuhan ekonomi lebih rendah, di bawah 3%.
Adapun perlambatan pertumbuhan ekonomi di berbagai negara, khususnya dua dari tiga negara besar yang menjadi “Big Three”, yakni Amerika Serikat (AS) dan China.
“Pertumbuhan ekonomi China tahun ini sekitar 4,6% dan tahun 2025 turun ke 4,1%. Ekonomi AS yang tahun ini 2,2% diperkirakan turun ke 1,7%. Hanya ekonomi India yang mampu bertumbuh 6,5%, tahun 2024 dan 2025. Kita berharap, ekonomi Indonesia yang pada tahun 2023 bertumbuh 5,04%, turun dari 5,31% tahun 2022, bakal kembali naik tahun ini, paling tidak sesuai target pemerintah, 5,2%,” ujar Primus.

