Peremajaan Sawit Rakyat Lambat, Ini Penyebabnya!
BELITUNG, investortrust.id - Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono mengungkapkan peremajaan kelapa sawit rakyat lambat dilakukan. Hal tersebut pun membuat produktivitas stagnan dan mengalami penurunan.
Dalam paparannya, Eddy menjelaskan selama lima tahun terakhir, yakni sejak 2020, produksi sawit baik crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil (PKO) RI mengalami stagnan sekitar 50-an juta ton setahun. Produksi total CPO dan PKO pada 2020 tercatat sebanyak 51,58 juta ton, kemudian menurun sedikit pada 2021 menjadi 51,3 juta ton. Penurunan berlanjut pada 2022 dengan produksi mencapai 51,25 juta ton, kemudian kembali naik pada 2023 ke angka 54,84 juta ton
"Karena, memang kita seharusnya sudah melakukan replanting, utamanya untuk sawit rakyat. Nah, ini agak terlambat yang peremajaan sawit rakyat, sehingga produktivitas kita bukannya naik malah justru turun produktivitasnya, produksi kita stagnan," ucap Eddy di Belitung, baru-baru ini.
Baca Juga
Dana Rp 50 Triliun Lebih, Pemerintah Tambah Tugas BPDPKS Urus Kelapa dan Kakao
Dalam kesempatan yang sama, Anggota Dewan Pengawas Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit (BPDPKS) Joko Supriyono menilai, peremajaan sawit rakyat lambat dilakukan karena banyaknya kementerian atau lembaga yang terlibat. Akibatnya perlu regulasi yang berbelit.
"Ini urusannya banyak kementerian. Jadi hambatannya itu di banyak kementerian, jadi perlu diperbaiki regulasi, prosedur. Jadi kenapa PSR (peremajaan sawit rakyat) lambat, karena kita masih terus perbaiki prosedur regulasi," ungkap Joko.
Baca Juga
Bos Pengusaha Sawit Beberkan Biang Kerok Penurunan Ekspor CPO Indonesia
Hal serupa dilontarkan Eddy Martono. Ia menilai regulasi untuk program peremajaan sawit rakyat belum sepenuhnya mendukung dan banyak terjadi tumpang tindih kebijakan.
"Sekarang ini kementerian dan lembaga yang terlibat dalam sawit itu ada lebih dari 30, kalau tidak salah sekarang 37. Jadi, kebijakan ini justru saling tumpang tindih yang terjadi. Yang paling banyak masalah di plasma (kemitraan)," tambah Eddy.

