Bos Pengusaha Sawit Beberkan Biang Kerok Penurunan Ekspor CPO Indonesia
BELITUNG, investortrust.id - Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono mengungkapkan alasan penurunan signifikan nilai ekspor minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) pada Juli 2024.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) penurunan ekspor CPO dan turunannya terjadi di sejumlah negara tujuan. Seperti di antaranya adalah angka ekspor CPO ke India turun 59,31% (mtm) dan turun 67,50% (yoy).
Baca Juga
Lonjakan Permintaan Cina dan India Dongkrak Harga Referensi CPO Juli 2024
Kemudian, ekspor CPO Indonesia ke Cina juga menurun ke angka 49,56% (mtm) dan 30,04% (yoy). Tak sampai di situ, penurunan ekspor CPO juga terjadi ke Pakistan sebesar 17,78% (mtm) dan 18,62% (yoy).
"Kenapa demikian? kemarin saya balik dari Cina itu, minyak bunga matahari lebih murah, dibanding sawit karena oversupply," ucap Eddy dalam diskusi Kontribusi Sawit untuk APBN dan Perekonomian, Belitung, Selasa (27/8/2024).
"Dan saya langsung dengan Ketua Kadin di sana, yang khusus untuk impor nabati, minyak sawit lebih mahal, sehingga mereka melakukan pembelian banyak ke minyak matahari dan pengurangan ke sawit," tambahnya.
Baca Juga
Oleh sebab itu, Eddy meminta kepada pemerintah untuk mengeluarkan instrumen atau kebijakan fiskal. Sehingga, saat harga sawit tidak kompetitif, dapat turunkan sementara dan bisa menjadi kompetitif naik kembali.
"Karena minyak sawit bukan satu satunya minyak nabati di dunia. Sawit ini pangsanya di dunia 33% artinya masih ada 67% minyak nabati lain, salah satunya minyak bunga matahari," tandas Eddy.

