Gapki Soroti Stagnannya Program Peremajaan Sawit Rakyat dan Hambat Kenaikan Produksi
Poin Penting
|
IndustriSawit ProduksiSawit
JAKARTA, investortrust.id - Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dinilai masih berjalan sangat lambat. Kondisi ini membuat potensi peningkatan produksi sawit nasional belum optimal.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono mengatakan, lambatnya peremajaan kebun rakyat menjadi salah satu penyebab produksi sawit stagnan. Menurutnya, masalah ini sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
“PSR itu sebenarnya sekarang bisa dikatakan stagnan lah, jalan tapi lambat sekali,” kata Eddy kepada wartawan di Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Berdasarkan data Badan Pengelola Dana Perkebunan, realisasi program PSR pada 2024 mencapai 38.247 hektare, masih di bawah target pemerintah sebesar 70.000 hektare.
Oleh sebab itu, Eddy memperkirakan produksi sawit nasional tahun ini hanya tumbuh tipis. Total produksi diprediksi berada di kisaran 56-57 juta ton.
Eddy menjelaskan banyak kebun sawit rakyat sudah berusia tua. Kondisi itu membuat produktivitasnya jauh di bawah potensi optimal.
Baca Juga
Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Biaya Logistik Sawit hingga 50%
“Sekarang dengan 10 ton per hektare per tahun mereka masih bisa hidup. Padahal kalau direplanting bisa dua kali lipat jadi 20 ton,” bebernya.
Kekhawatiran petani
Di sisi lain, banyak petani justru menunda replanting karena khawatir kehilangan penghasilan. Pasalnya masa tunggu panen setelah penanaman ulang bisa mencapai tiga tahun.
“Keluhan mereka itu 'Bagaimana Pak, saya habis itu saya mau hidup pakai makan apa selama masa tunggu?' Karena replanting itu 2,5 sampai 3 tahun baru bisa panen lagi,” kata Eddy.
Selain itu, persoalan legalitas lahan juga menjadi hambatan utama PSR. Sejumlah kebun sawit rakyat masih berada di kawasan yang status hukumnya belum jelas.
“Yang kedua adalah memang ada masalah perizinan. Contoh ada legalitas, masih di kawasan hutan. Nah itu harus segera diselesaikan juga,” tutupnya.

