BEI Catat 16 Perusahaan Antre IPO, Mayoritas Aset Jumbo
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pipeline pencatatan saham perdana (initial public offering/IPO) masih didominasi perusahaan beraset besar. Hingga 17 April 2026, terdapat 16 perusahaan yang berada dalam antrean IPO, dengan 11 di antaranya masuk kategori aset skala besar.
Sementara itu, sebanyak 5 perusahaan tercatat berada pada kategori aset menengah dan tidak terdapat perusahaan dengan aset skala kecil dalam pipeline tersebut.
Baca Juga
OJK Catat 53 Pipeline Penawaran Umum hingga Maret 2026, 15 di Antaranya IPO
Klasifikasi aset perusahaan mengacu pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 53/POJK.04/2017 tentang Pernyataan Pendaftaran dalam Rangka Penawaran Umum dan Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu oleh Emiten dengan Aset Skala Kecil atau Emiten dengan Aset Skala Menengah. Dalam aturan itu, perusahaan aset skala kecil memiliki aset di bawah Rp 50 miliar, aset skala menengah antara Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar, dan aset skala besar di atas Rp 250 miliar.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna melaporkan hingga periode tersebut baru terdapat 1 perusahaan yang mencatatkan saham di BEI dengan dana yang dihimpun sebesar Rp 300 miliar.
Secara sektoral, Nyoman menjabarkan pipeline IPO didominasi sektor healthcare dengan 4 perusahaan. Selanjutnya sektor consumer cyclicals dan consumer non-cyclicals masing-masing sebanyak 3 perusahaan. Kemudian sektor infrastructures dan technology masing-masing diisi 2 perusahaan, serta sektor energy dan financials masing-masing 1 perusahaan.
Baca Juga
OCBC Sekuritas Targetkan 3 IPO Saham di 2026, Satu Emiten Siap Melantai Semester I
Kemudian untuk rights issue, per 17 April 2026 terdapat 3 perusahaan tercatat yang telah menerbitkan rights issue dengan total nilai Rp 3,75 triliun. Sedangkan hingga saat ini, telah diterbitkan 52 emisi dari 35 penerbit Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) dengan dana yang dihimpun sebesar Rp 57,16 triliun.

