Sempat Tembus Rp 17.000 per Dolar AS, Rupiah Menguat Pagi Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Nilai tukar rupiah sempat melemah tajam hingga menyentuh Rp 17.041 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (31/3/2026), sebelum berbalik menguat 0,32% ke level Rp 16.986 per dolar AS pada pembukaan Rabu (1/4/2026) pukul 09.02 WIB, di tengah dinamika global yang dipengaruhi sentimen geopolitik dan pergerakan harga komoditas.
Pergerakan rupiah terjadi seiring fluktuasi mata uang global yang cenderung beragam. Yuan China dan ringgit Malaysia menguat masing-masing 0,16% dan 0,34%, diikuti dolar Singapura yang naik 0,09%. Sebaliknya, yen Jepang melemah 0,03%, baht Thailand turun 0,12%, dan peso Filipina tertekan 0,5% terhadap dolar AS.
Baca Juga
Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Risiko Global, Rupiah Relatif Tahan di Tengah Tekanan Pasar
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan penguatan sejumlah mata uang terhadap dolar AS dipicu respons pasar terhadap pernyataan Presiden AS Donald Trump. Ia menilai pelaku pasar mulai merespons sinyal potensi meredanya konflik di Timur Tengah.
Trump sebelumnya menyatakan konflik Iran kemungkinan tidak akan berlangsung “lebih lama lagi” dan Selat Hormuz akan kembali dibuka “secara otomatis” setelah penarikan pasukan AS. Namun, pernyataan tersebut dibantah oleh Abbas Araghchi yang menegaskan bahwa Iran tidak mencari gencatan senjata, melainkan pengakhiran perang secara menyeluruh dengan jaminan keamanan dan kompensasi.
Pernyataan berbeda dari kedua pihak ini mencerminkan tingginya ketidakpastian geopolitik global, yang turut memengaruhi volatilitas pasar keuangan, termasuk nilai tukar dan harga komoditas energi.
Di pasar energi, harga minyak mentah Brent tercatat turun ke sekitar US$ 104,1 per barel. Penurunan ini terjadi di tengah harapan deeskalasi konflik, setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan kesiapan untuk menghentikan permusuhan jika jaminan keamanan dapat diperoleh.
Baca Juga
Rupiah Dibuka Menguat, Dolar AS Masih Perkasa Akibat Konflik Timur Tengah
Sementara itu, harga bensin di Amerika Serikat meningkat sepanjang Maret 2026. Data Energy Information Administration (EIA), lembaga statistik energi AS, menunjukkan rata-rata harga mencapai US$ 3,638 per galon atau setara US$ 0,96 per liter, menjadi level tertinggi sejak September 2023. Kenaikan ini mencerminkan tekanan pasar akibat gangguan pasokan minyak global.
Di sisi lain, aset safe haven, seperti emas justru menguat hingga sekitar US$ 4.700 per ons. Kenaikan ini terjadi di tengah kombinasi faktor, termasuk ekspektasi deeskalasi konflik yang menekan harga minyak dan meredakan kekhawatiran kenaikan suku bunga lanjutan oleh bank sentral global.

