Rupiah Dibuka Menguat, Dolar AS Masih Perkasa Akibat Konflik Timur Tengah
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (31/3/2026) pagi pukul 09.01 WIB seiring pergerakan mata uang global yang dipengaruhi ketegangan geopolitik dan ekspektasi suku bunga global, dengan penguatan tipis 0,06% ke level Rp 16.992 per dolar AS.
Pergerakan rupiah terjadi di tengah dinamika pasar valuta asing kawasan Asia yang cenderung beragam. Sejumlah mata uang regional sempat mencatat penguatan terhadap dolar AS, mencerminkan respons investor terhadap perkembangan eksternal.
Dolar Singapura menguat 0,06% terhadap dolar AS, diikuti ringgit Malaysia yang naik 0,09% dan yuan China yang menguat 0,11%. Di sisi lain, dolar Hong Kong melemah 0,02%, sementara yen Jepang turun 0,01% dan baht Thailand terkoreksi 0,08%.
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk, Andry Asmoro menjelaskan indeks dolar AS atau DXY telah menembus level 100, tertinggi sejak 25 Mei tahun lalu. Kenaikan ini dipicu meningkatnya permintaan aset aman di tengah belum adanya tanda de-eskalasi konflik di Timur Tengah. “Tidak adanya tanda-tanda de-eskalasi perang di Timur Tengah membuat pasar lebih memilih aset aman dalam bentuk dolar AS,” ujar Andry.
Baca Juga
Ia menambahkan ketidakpastian pasar semakin meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran turut terlibat dalam konflik, diikuti dengan pengerahan tambahan pasukan AS ke kawasan tersebut. Keterlibatan ini meningkatkan risiko gangguan terhadap jalur perdagangan energi global, khususnya di Laut Merah.
Kondisi tersebut diperparah dengan ancaman terhadap ekspor energi, yang mendorong lonjakan harga minyak dunia. Hal ini kemudian memicu kekhawatiran inflasi global yang lebih tinggi dan memperkuat posisi dolar AS sebagai aset lindung nilai.
Ketua Federal Reserve (The Fed), bank sentral Amerika Serikat, Jerome Powell sebelumnya mengisyaratkan bank sentral akan mencermati dampak lonjakan harga energi terhadap inflasi. Ia menyatakan The Fed akan look through atau melihat lebih jauh dampak sementara dari guncangan energi terhadap kebijakan moneter.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump kembali mengeluarkan peringatan kepada Iran setelah pembicaraan terkait konflik dinilai belum mencapai titik temu. Meski terdapat laporan adanya diskusi serius, volatilitas pasar tetap tinggi karena pelaku pasar mempertimbangkan risiko gangguan terhadap infrastruktur energi global.
Harga minyak mentah dan bahan bakar tercatat mempertahankan tren kenaikan sepanjang bulan ini. Kenaikan tersebut mendukung ekspektasi sikap hawkish dari The Fed, yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan depan, seiring kondisi pasar tenaga kerja AS yang masih solid dan meningkatnya biaya energi di sektor industri.
Baca Juga
Kenaikan harga energi juga memperkuat dolar AS dibandingkan mata uang safe haven lain, seperti yen Jepang dan franc Swiss. Hal ini terjadi karena AS merupakan salah satu eksportir energi utama dunia, sementara negara pengimpor harus meningkatkan permintaan dolar untuk membayar kebutuhan minyak dan gas alam cair.
Di pasar komoditas, harga emas tercatat stabil di kisaran US$ 4.500 per ons pada Selasa. Namun secara bulanan, emas masih berpotensi mencatat penurunan sekitar 15%, menjadi kinerja terburuk sejak Oktober 2008.

