Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Risiko Global, Rupiah Relatif Tahan di Tengah Tekanan Pasar
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Konflik yang terus berlanjut di Timur Tengah kian menjadi sumber utama tekanan baru bagi perekonomian global dan pasar keuangan. Dalam laporan Weekly Economic Update W4 Maret 2026 yang disusun Office of Chief Economist Group BRI, Macroeconomics & Financial Market Analytics Department, dan diterbitkan di Jakarta, 30 Maret 2026, Bank Rakyat Indonesia (BRI) menegaskan bahwa risiko geopolitik kini menjadi pendorong utama lonjakan harga energi, meningkatnya volatilitas pasar keuangan global, serta menyempitnya ruang pelonggaran moneter di berbagai negara.
BRI mencatat, harga minyak Brent telah menyentuh US$112,6 per barel per 27 Maret 2026, terutama didorong oleh kenaikan premi risiko geopolitik akibat perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat. Lonjakan harga ini dinilai lebih banyak berasal dari kekhawatiran pasar atas potensi gangguan distribusi dan pasokan minyak global dari kawasan Timur Tengah, bukan semata-mata faktor permintaan.
Struktur harga minyak juga menunjukkan tekanan jangka pendek yang kuat. Harga spot Brent berada jauh di atas harga futures, yang mengindikasikan pasar melihat guncangan harga saat ini lebih berat untuk jangka pendek dibanding horizon menengah. Dalam konteks ini, risiko inflasi energi kembali menjadi perhatian utama, termasuk bagi bank sentral global.
Laporan BRI menyebut, meningkatnya risiko geopolitik saat ini bahkan melampaui sejumlah episode perang langsung pascapandemi. Probabilitas implisit pasar per 27 Maret 2026 menunjukkan peluang gencatan senjata dalam waktu dekat masih terbatas. Pelaku pasar memperkirakan konflik baru berpotensi mereda pada Juni 2026, dengan probabilitas lebih dari 50%. Artinya, volatilitas pasar global diperkirakan masih akan bertahan tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
Guncangan geopolitik ini telah mendorong OECD merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 di sejumlah negara. Secara agregat, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan tertahan di 2,9%. Amerika Serikat justru direvisi naik menjadi 2,0%, tetapi kawasan Eropa dan Inggris mengalami penurunan proyeksi. Indonesia juga ikut terkoreksi, dari 5,0% menjadi 4,8%, meski tetap termasuk salah satu yang tertinggi dibanding banyak negara lain. BRI menilai hal itu mencerminkan fundamental domestik yang masih relatif solid, walau ruang percepatan pertumbuhan kini makin dibatasi oleh pelemahan eksternal dan kenaikan risiko global.
Dari sisi kebijakan moneter global, BRI melihat pasar kini makin yakin bahwa Federal Funds Rate (FFR) akan bertahan di level 3,75% sepanjang 2026. Sikap hawkish The Fed dinilai tetap kuat, terutama karena kenaikan harga minyak berpotensi mempertahankan tekanan inflasi energi. Pada Maret 2026, ekspektasi inflasi konsumen AS untuk satu tahun ke depan naik dari 3,4% menjadi 3,8%, meski ekspektasi lima tahun ke depan masih relatif stabil di 3,2%. Ini menunjukkan tekanan inflasi jangka pendek kembali menguat, meski belum sepenuhnya menggeser ekspektasi jangka panjang.
BRI juga menyoroti bahwa tarif efektif AS memang telah turun dari puncaknya, tetapi hingga 25 Maret 2026 masih berada di level 9,88%, jauh di atas rata-rata 2020–2024 sebesar 2,66%. Ketidakpastian perdagangan global pun tetap tinggi, tercermin dari indeks ketidakpastian perdagangan yang masih berada di 317 pada Maret 2026, jauh di atas rata-rata prapandemi 2018–2019 sebesar 153. Dengan kata lain, selain risiko perang, dunia juga masih dibayangi fragmentasi perdagangan dan perubahan arah kebijakan dagang.
Di pasar keuangan global, tekanan juga semakin terasa. Pada pekan keempat Maret 2026, volatilitas pasar saham dan obligasi meningkat, sementara negara-negara berkembang mencatat net outflow US$15,6 miliar, lebih besar dibandingkan pekan sebelumnya. Menurut BRI, kondisi ini menandakan investor global masih berada dalam mode waspada tinggi terhadap arah konflik di Timur Tengah dan risiko rambatannya terhadap energi, inflasi, dan aset berisiko.
Di tengah tekanan tersebut, Rupiah justru menunjukkan ketahanan relatif. BRI mencatat Rupiah menguat tipis 0,12% secara mingguan pada pekan keempat Maret 2026, ketika mayoritas mata uang negara berkembang justru melemah terhadap dolar AS. Penguatan terbatas itu dinilai menunjukkan ketahanan Rupiah dibanding mata uang peers, meski tekanan eksternal belum sepenuhnya hilang. Indeks dolar AS sendiri naik ke 100,15, sejalan dengan ekspektasi bahwa suku bunga AS akan tetap tinggi lebih lama.
Baca Juga
Dari dalam negeri, BRI melaporkan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia naik tipis menjadi US$434,71 miliar pada Januari 2026, dari US$432,97 miliar pada Desember 2025. Kenaikan ini terutama dipicu oleh meningkatnya ULN pemerintah dan bank sentral, sementara ULN swasta justru menurun. ULN pemerintah tercatat naik menjadi US$216,29 miliar, ditopang oleh kenaikan pinjaman dan SBN internasional. Sebaliknya, ULN swasta turun menjadi US$192,96 miliar, mencerminkan sikap wait and see sektor swasta di tengah gejolak global.
Meski kenaikan ULN total relatif terbatas, BRI mengingatkan adanya peningkatan proporsi utang jangka pendek yang bisa menambah risiko likuiditas dan refinancing. Di sisi lain, fakta bahwa pemerintah masih banyak memperoleh pembiayaan dari lembaga multilateral seperti World Bank dan Asian Development Bank memberi sinyal bahwa sebagian pembiayaan eksternal masih berasal dari sumber yang lebih terjangkau dan relatif berkelanjutan.
Dari sisi likuiditas domestik, pertumbuhan uang primer atau M0 adjusted meningkat menjadi 18,32% year on year pada Februari 2026, dari 14,74% pada Januari. Namun, pertumbuhan uang beredar luas M2 justru sedikit melambat menjadi 8,71% dari 10,00%. Menurut BRI, hal ini mengindikasikan transmisi likuiditas dari basis moneter ke perekonomian belum sepenuhnya optimal. Preferensi masyarakat terhadap instrumen yang lebih likuid juga masih tinggi, tercermin dari pertumbuhan M1 yang tetap lebih kuat dibanding uang kuasi.
Tekanan di pasar domestik juga belum reda. IHSG turun 0,14% secara mingguan ke level 7.097 per 27 Maret 2026, dipengaruhi koreksi saham-saham berkapitalisasi besar, terutama di sektor bahan baku dan keuangan. Investor asing pun mencatat net outflow US$1,32 miliar, menjadi arus keluar mingguan terbesar sejak awal tahun. Pada saat yang sama, premi CDS 5 tahun Indonesia naik menjadi 103,34 basis poin, menandakan persepsi risiko terhadap aset domestik ikut meningkat.
Sejalan dengan itu, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) naik secara selektif, terutama pada tenor pendek 1 tahun, 2 tahun, dan 5 tahun. Kenaikan ini mencerminkan ekspektasi pasar bahwa suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama, seiring meningkatnya risiko inflasi dan tekanan eksternal. Bagi sektor perbankan, kondisi ini dapat memicu mark-to-market loss pada portofolio surat berharga, sehingga penguatan manajemen risiko pasar menjadi semakin penting.
Bank Indonesia, menurut laporan tersebut, terus melakukan operasi moneter untuk menjaga stabilitas Rupiah. Yield SRBI naik di seluruh tenor, disertai peningkatan outstanding yang mencapai Rp822,21 triliun per 26 Maret 2026. Namun kenaikan imbal hasil itu belum cukup menarik arus modal asing masuk, karena investor nonresiden tetap mencatatkan net outflow Rp1,12 triliun dari instrumen SRBI pada pekan keempat Maret.
Baca Juga
Dalam peta komoditas global, mayoritas harga energi naik. Selain Brent yang melonjak, harga batu bara juga menguat tipis menjadi US$135,6 per ton, sementara gas alam relatif stabil di US$3,1 per MMBtu. Harga logam bergerak campuran, dengan emas naik ke US$4.494,1 per ons troi, sedangkan iron ore turun akibat pelemahan permintaan dari China. Pada kelompok pangan, harga bergerak mixed: CPO dan kedelai melemah tipis, gandum naik, dan beras gabah stabil.
Bagi industri perbankan, BRI memetakan tiga implikasi utama. Pertama, berlanjutnya tekanan pasar global dan domestik meningkatkan risiko pasar, terutama melalui potensi kerugian nilai wajar portofolio surat berharga. Kedua, ruang penurunan cost of fund makin terbatas karena pelonggaran moneter global dan domestik terhambat oleh kenaikan risiko inflasi energi. Ketiga, pergeseran likuiditas ke instrumen yang lebih cair berpotensi meningkatkan volatilitas funding, sehingga bank perlu lebih aktif menjaga buffer likuiditas dan mengoptimalkan strategi pendanaan jangka pendek.
Secara keseluruhan, laporan BRI menegaskan bahwa perang di Timur Tengah kini bukan lagi sekadar isu geopolitik, melainkan telah menjelma menjadi faktor utama yang memengaruhi arah harga energi, kebijakan moneter, arus modal, nilai tukar, dan pasar keuangan global. Bagi Indonesia, fundamental domestik memang masih cukup tangguh, tetapi ruang manuver ekonomi kian menyempit di tengah gelombang risiko eksternal yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

