Rupiah Menguat ke Rp 16.973 Per Dolar AS Jelang Keputusan BI Rate
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (17/3/2026) pagi ke level Rp 16.973 per dolar AS atau menguat 0,14%, didorong pelemahan dolar dan sentimen pasar menjelang keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI).
Penguatan mata uang Garuda terjadi seiring penurunan indeks dolar AS atau DXY yang berada di kisaran 100. Sejumlah mata uang negara mitra dagang Indonesia, seperti yuan China, rupee India, peso Filipina, dan ringgit Malaysia juga mencatat penguatan pada periode yang sama.
Baca Juga
Rupiah Terdepresiasi 0,3% Sejak Kecamuk di Teluk Persia, Purbaya Sebut Masih Moderat
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk, bank BUMN terbesar di Indonesia, Andry Asmoro mengatakan pelemahan dolar terjadi setelah indeks tersebut turun dari level tertingginya. Menurut dia, pelaku pasar masih mencermati dampak konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel terhadap inflasi dan kondisi fiskal global.
“Ketidakpastian masih tinggi terkait akhir dari konflik ini,” kata Andry.
Ia menjelaskan pergerakan dolar juga dipengaruhi dinamika harga minyak global. Data Bloomberg menunjukkan harga minyak mentah Brent sempat turun sebelum kembali menguat. Harga Brent sempat berada di US$ 101,76 per barel dan kemudian naik ke US$ 103,13 per barel pada pukul 09.07 WIB.
Pergerakan harga minyak dipengaruhi kebijakan Pemerintah Amerika Serikat yang memberikan izin kapal tanker minyak Iran melintasi Selat Hormuz. Di saat yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendorong negara lain untuk menjaga jalur perdagangan global tetap terbuka.
Di dalam negeri, pasar juga menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Bank sentral diperkirakan akan menahan suku bunga acuan atau BI rate di level 4,75% di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.
Baca Juga
Rupiah Menguat Tipis, Lonjakan Harga Minyak Bayangi Pergerakan
Sehari sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menekankan pentingnya peran Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, terutama setelah mata uang tersebut sempat melewati level Rp 17.000 per dolar AS.
“Kalau ekonominya lagi lari kencang, harusnya fundamentalnya baik. Kalau normal, rupiah harusnya menguat,” kata Purbaya.

