BI Rate Tetap, Rupiah Menguat Tipis di Tengah Tekanan Dolar AS
Rupiah Menguat Tipis Usai BI Tahan BI Rate di 4,75%
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Rupiah menguat tipis sehari setelah Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan atau BI rate di posisi 4,75% pada Rabu (22/10/2025). Penguatan ini terjadi meski indeks dolar Amerika Serikat (AS) atau DXY naik ke level 99, menandakan kuatnya mata uang Negeri Paman Sam di pasar global.
Penguatan rupiah juga diikuti yuan China, sementara sebagian besar mata uang Asia justru tertekan. Dolar AS menguat terhadap yen Jepang sebesar 0,30%, won Korea Selatan 0,23%, peso Filipina 0,13%, ringgit Malaysia 0,03%, dolar Singapura 0,08%, dan baht Thailand 0,11%. Di Eropa, dolar turut menguat terhadap euro sebesar 0,08% dan poundsterling Inggris 0,09%.
Baca Juga
Ekonom UI Prediksi BI Tahan BI Rate untuk Jaga Stabilitas Rupiah
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai, penguatan dolar AS dipicu meningkatnya ketidakpastian global dan sikap investor yang menunggu arah kebijakan moneter AS. Menurutnya, pelaku pasar juga mencermati perkembangan perundingan perdagangan antara AS dan China yang dijadwalkan berlangsung pekan ini di Malaysia.
“Investor juga memantau ketegangan antara AS dan Venezuela, produsen minyak utama dunia. Serangan AS terhadap Venezuela di perairan internasional merupakan eskalasi yang berbahaya dan bentuk eksekusi di luar hukum,” ujar Ibrahim, dikutip Kamis (23/10/2025).
Ia menambahkan, investor bersikap hati-hati menjelang rilis laporan indeks harga konsumen (IHK) AS pada Jumat (24/10/2025). Laporan inflasi tersebut diperkirakan akan menjadi acuan penting bagi arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) ke depan.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan BI rate di level 4,75% dalam rapat dewan gubernur (RDG) yang digelar pada 21–22 Oktober 2025. Suku bunga deposit facility tetap di 3,75%, sedangkan lending facility bertahan di 5,50%.
BI menegaskan keputusan tersebut sejalan dengan proyeksi inflasi 2025 dan 2026 yang tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5% ± 1%. Bank sentral juga menegaskan langkah ini untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap sesuai fundamental di tengah tekanan global yang masih tinggi.
Selain menjaga kebijakan moneter, BI memperkuat kebijakan makroprudensial guna mendorong penurunan suku bunga perbankan, peningkatan likuiditas, serta percepatan pertumbuhan kredit dan pembiayaan. Langkah tersebut diharapkan dapat menopang laju pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Baca Juga
Jelang Pengumuman RDG BI, Rupiah Melemah 34 Poin ke Rp 16.623 per US$
Di sisi lain, BI juga memperkuat kebijakan sistem pembayaran digital untuk mendukung aktivitas ekonomi domestik. Upaya ini dilakukan melalui perluasan ekosistem pembayaran digital, penguatan struktur industri pembayaran, serta peningkatan ketahanan infrastruktur sistem pembayaran nasional.
Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan Kamis (23/10/2025) dengan potensi penutupan melemah di kisaran Rp 16.580 – Rp 16.610 per dolar AS. “Pasar masih akan sangat sensitif terhadap dinamika eksternal, khususnya kebijakan The Fed dan tensi geopolitik global,” ujarnya.

