Rupiah Menguat Tipis, Lonjakan Harga Minyak Bayangi Pergerakan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Nilai tukar rupiah menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat pada Kamis (12/3/2026) pagi, meski lonjakan harga minyak dunia dan ketegangan geopolitik global masih berpotensi menekan pergerakan mata uang domestik.
Pada pukul 09.14 WIB, rupiah menguat 0,02% ke level Rp 16.882 per dolar AS. Penguatan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kewaspadaan pasar terhadap kenaikan harga energi global.
Harga minyak mentah dunia jenis Brent pada perdagangan pagi tercatat naik ke level US$ 98,52 per barel. Kenaikan harga energi ini dinilai dapat meningkatkan tekanan inflasi global dan berdampak pada pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah berpotensi kembali melemah terhadap dolar AS seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dunia.
“Harga minyak mentah dunia kembali melonjak walau ada harapan dukungan dari rencana perlepasan cadangan minyak besar-besaran oleh anggota-anggota IEA (International Energy Agency),” kata Lukman kepada Investortrust.
IEA merupakan organisasi energi negara maju yang mengoordinasikan kebijakan energi global dan cadangan strategis minyak.
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk Andry Asmoro menilai kenaikan harga minyak mentah Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate (WTI) di atas US$ 90 per barel terutama dipicu oleh kekhawatiran konflik Iran yang berpotensi berlangsung lebih lama.
Baca Juga
Rupiah Tertekan ke Level Rp17.000, Ekonom Sebut Akibat Respons Pasar Berlebihan
Menurut dia, kekhawatiran tersebut menutupi dampak positif dari langkah sejumlah negara besar yang melepas cadangan minyak secara terkoordinasi untuk meredakan tekanan pasar energi. Pasar juga menilai langkah tersebut belum cukup kuat untuk meredakan kekhawatiran pasokan, meski IEA telah menyetujui pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarah sebesar 400 juta barel.
“Dari jumlah tersebut, 172 juta barel berasal dari AS yang diperkirakan memerlukan sekitar 120 hari untuk didistribusikan,” ujar Andry.
Di sisi lain, perkembangan inflasi di Amerika Serikat juga menjadi perhatian investor global. Andry mencatat inflasi tahunan AS pada Februari 2026 bertahan di level 2,4%, tidak berubah dibandingkan Januari dan sejalan dengan ekspektasi pasar. Angka tersebut juga menjadi tingkat inflasi terendah sejak Mei 2025, meskipun tekanan dari sektor energi kembali meningkat.
Harga energi secara keseluruhan tercatat naik 0,5% setelah sebelumnya turun 0,1%. Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh penurunan harga bensin yang lebih kecil, yakni minus 5,6% dibandingkan minus 7,5% pada bulan sebelumnya, serta kenaikan harga bahan bakar minyak sebesar 6,2% dari sebelumnya minus 4,2%. Selain itu, harga gas alam juga meningkat 10,9%, sedikit lebih tinggi dibandingkan kenaikan 9,8% pada periode sebelumnya.
Inflasi inti konsumen AS, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, naik 0,2% secara bulanan. Angka ini sedikit melambat dibandingkan kenaikan 0,3% pada bulan sebelumnya dan sejalan dengan perkiraan pasar.
“Pelaku pasar terus memantau konflik tersebut dan dampaknya terhadap pasar minyak. Harga minyak sempat mereda setelah muncul laporan bahwa beberapa negara bersiap melepas cadangan minyak, namun kembali naik sehingga menjaga kekhawatiran akan lonjakan inflasi akibat energi,” ujar Andry.
Pasar keuangan global saat ini juga menunggu arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed). Mayoritas pelaku pasar memperkirakan bank sentral tersebut akan mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan pekan depan.
Baca Juga
Rupiah Terdepresiasi 0,3% Sejak Kecamuk di Teluk Persia, Purbaya Sebut Masih Moderat
Ekspektasi pasar menunjukkan kemungkinan hanya satu kali pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin sepanjang tahun ini, dengan peluang terbesar terjadi pada September.
Sementara itu, dolar AS bergerak bervariasi terhadap mata uang utama dunia. Mata uang Negeri Paman Sam tersebut menguat terhadap euro dan yen, namun melemah terhadap dolar Australia.

