Rupiah Menguat ke Rp 16.879 Per Dolar AS di Tengah Sentimen Global
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (10/3/2026) pagi seiring pergerakan positif sejumlah mata uang Asia di tengah perhatian pasar terhadap prospek inflasi global dan arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 0,41% menjadi Rp 16.879 per dolar AS pada pukul 09.04 WIB. Penguatan tersebut terjadi di tengah dinamika pasar global yang masih dipengaruhi ketegangan geopolitik serta pergerakan harga energi.
Pergerakan serupa juga terjadi pada sejumlah mata uang di kawasan Asia. Yen Jepang menguat 0,03%, ringgit Malaysia naik 0,74%, sementara yuan China menguat 0,34% terhadap dolar AS.
Baca Juga
Rupiah Melemah, Imbas Permintaan Safe Haven di Tengah Eskalasi Konflik AS-Iran
Di sisi lain, dolar AS justru mencatat penguatan terhadap beberapa mata uang utama global. Mata uang Amerika Serikat tersebut naik 0,14% terhadap euro kawasan Uni Eropa dan menguat 0,05% terhadap poundsterling Inggris. Dolar AS juga menguat terhadap rupee India, dengan mata uang tersebut melemah 0,63%.
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk Andry Asmoro mengatakan pasar global saat ini masih dibayangi kekhawatiran inflasi yang dipicu lonjakan harga energi. Kondisi tersebut berpotensi mempersulit langkah bank sentral Amerika Serikat dalam melonggarkan kebijakan moneter.
Menurutnya, risiko inflasi yang meningkat membuat ruang penurunan suku bunga oleh Federal Reserve atau The Fed menjadi lebih terbatas. “Investor juga bersiap menghadapi serangkaian rilis data ekonomi penting pekan ini, termasuk laporan CPI, indeks harga PCE, dan data lowongan kerja JOLTS, yang akan memberikan gambaran lebih lanjut mengenai ketahanan ekonomi AS,” kata Andry Asmoro.
Consumer Price Index (CPI) merupakan indikator utama inflasi konsumen di Amerika Serikat. Sementara Personal Consumption Expenditures (PCE) merupakan indikator inflasi pilihan Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan moneter.
Sentimen Energi Global Membayangi Pasar
Tekanan inflasi global juga dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Produsen minyak utama di kawasan tersebut, termasuk Kuwait, Iran, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi, dilaporkan memangkas produksi minyak mentah di tengah keterbatasan kapasitas penyimpanan serta gangguan jalur distribusi energi akibat penutupan Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Gangguan di jalur tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan tekanan inflasi global. Situasi tersebut membuat pelaku pasar menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.
Investor kini memperkirakan Federal Reserve hanya akan melakukan satu kali pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin sepanjang 2026. Penurunan tersebut diperkirakan terjadi pada September, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya yang memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga.
Meski ketidakpastian global meningkat, Amerika Serikat masih dipandang sebagai salah satu tujuan investasi yang relatif aman oleh sebagian pelaku pasar. Ketahanan energi negara tersebut dinilai memberikan dukungan tambahan bagi dolar AS di tengah gejolak pasar global.
Di sisi lain, ekspektasi inflasi konsumen Amerika Serikat untuk satu tahun ke depan tercatat menurun menjadi 3% pada Februari 2026, level terendah dalam tujuh bulan terakhir. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan 3,1% pada Januari.
Baca Juga
Rupiah Tembus Rp 17.000 per US$, Indef Wanti-wanti Peningkatan Tekanan Ekonomi
Konsumen memperkirakan perlambatan kenaikan harga pada beberapa sektor, termasuk pangan yang turun 0,4 poin persentase menjadi 5,3%, layanan kesehatan turun 0,1 poin persentase menjadi 9,7%, serta biaya sewa yang turun 0,9 poin persentase menjadi 5,9%.
Sementara itu, imbal hasil obligasi Pemerintah Indonesia tenor 10 tahun pada Selasa (9/3/2026) naik 14,8 basis poin menjadi 6,76%. Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia berdenominasi dolar AS tenor 10 tahun atau INDONIA juga meningkat 11,5 basis poin menjadi 5,2%.
Andry memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih bergerak dalam kisaran terbatas pada perdagangan hari ini. “Pandangan kami, USD/IDR hari ini diperkirakan bergerak di kisaran Rp 16.910 hingga Rp 17.025 per dolar AS,” kata Andry.

