Rupiah Kamis Pagi Terdepresiasi Jadi Rp 16.798 Per Dolar di Tengah Sentimen Global
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Rupiah bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada Kamis (29/1/2026) pagi seiring pelaku pasar global mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) dan pergerakan mata uang utama dunia.
Nilai tukar rupiah tercatat terdepresiasi 0,45% ke posisi Rp 16.798 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar Amerika Serikat tercatat melemah 0,31% ke level 96,14 terhadap 6 mata uang utama dunia.
Meski demikian, dolar Amerika Serikat masih terpantau menguat terhadap sejumlah mata uang negara mitra dagang Indonesia. Dolar tercatat menguat 0,01% terhadap dolar Singapura, menguat 0,14% terhadap baht Thailand, naik 0,30% terhadap ringgit Malaysia, serta menguat 0,07% terhadap rupee India.
Baca Juga
Di sisi lain, pergerakan mata uang utama dunia menunjukkan arah yang beragam. Euro menguat 0,12% terhadap dolar Amerika Serikat, sementara poundsterling naik 0,01%. Yen Jepang juga menguat 0,22% terhadap dolar Amerika Serikat.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan pasar memperoleh kepastian bahwa Federal Reserve (The Fed), bank sentral Amerika Serikat, mempertahankan suku bunga acuan federal funds rate di kisaran target 3,5%–3,75% pada rapat Januari 2026, sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar.
"Keputusan tersebut diambil setelah tiga kali pemangkasan suku bunga berturut-turut pada tahun sebelumnya yang telah menurunkan biaya pinjaman ke level terendah sejak 2022," kata dia.
Namun demikian, keputusan tersebut tidak sepenuhnya bulat. Gubernur The Fed Stephen Miran dan Christopher Waller memberikan suara menentang dengan mendorong pemangkasan lanjutan sebesar 25 basis poin.
Para pembuat kebijakan mencatat aktivitas ekonomi Amerika Serikat terus berekspansi pada laju yang solid, pertambahan lapangan kerja tetap rendah, dan tingkat pengangguran menunjukkan tanda-tanda stabilisasi, sementara inflasi masih relatif tinggi.
The Fed juga menegaskan akan secara cermat menilai data yang masuk, perkembangan prospek, serta keseimbangan risiko dalam mempertimbangkan penyesuaian berikutnya atas suku bunga acuan.
Baca Juga
Dalam konferensi pers rutin, Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan perekonomian Amerika Serikat memasuki 2026 dengan kondisi yang kuat dan tingkat suku bunga saat ini dinilai tepat untuk mendorong kemajuan menuju dua mandat The Fed.
Pergerakan dolar Amerika Serikat turut dipengaruhi pernyataan Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent yang meredam spekulasi bahwa pemerintah Amerika Serikat akan melakukan intervensi di pasar valuta asing dengan menjual dolar terhadap yen.
Dolar tercatat diperdagangkan menguat ke level 96,6 dan menghentikan tren pelemahan yang terjadi selama empat sesi berturut-turut.

