Rupiah Tembus Rp 17.000 per US$, Indef Wanti-wanti Peningkatan Tekanan Ekonomi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyoroti kondisi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang sudah menyentuh ke angka Rp 17.000. Hal ini berpotensi membuat perekonomian nasional semakin tertekan.
Peneliti Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef Abdul Manap Pulungan menyebutkan, kondisi tersebut dikhawatirkan akan memicu terjadi inflasi yang semakin tinggi, khususnya pada peningkatan harga barang impor serta biaya produksi di dalam negeri.
Ia menjelaskan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya, inflasi harga impor tercatat lebih tinggi dibandingkan inflasi umum. Misalnya, pada kuartal pertama 2025, inflasi impor mencapai sekitar 7,82%, lebih tinggi dibandingkan tingkat inflasi domestik pada periode yang sama.
"Sementara inflasi kita saat itu tidak sampai segitu. Rata-rata kalau kita hitung selama 2025 ini, baik dari kuartal pertama sampai kuartal keempat, inflasi impor ini ada di atas inflasi lainnya. Artinya depresiasi rupiah itu sangat berat dampaknya terhadap ekonomi nasional," ucapnya pada acara diskusi secara daring, Senin (9/3/2026).
Baca Juga
Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Menkeu Purbaya: Komentar Ekonom Picu Kekhawatiran Pasar
Lebih lanjut, Abdul menilai, pelemahan nilai rupiah itu belum mampu mendorong ekspor Indonesia lebih karena tingginya kandungan impor di dalam barang-barang ekspor. Di sisi lain, menurutnya, tekanan nilai tukar juga berpotensi memengaruhi kondisi fiskal pemerintah, dalam hal ini adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Lalu kita perlu melihat sebetulnya ketika asumsi APBN atau asumsi dasar makroekonomi ini bergerak apa yang akan terpengaruh. Yang pertama ini kan inflasi masih dikatakan berpower positif yang perlu kita perhatikan adalah daya beli di nilai tukarnya," ungkapnya.
Ia menjelaskan, nilai tukar rupiah yang menyentuh Rp 17.000 akan memicu terjadinya lonjakan defisit anggaran. Hal ini berpotensi semakin semakin tertekan karena adanya konflik di Timur Tengah yang dapat membuat harga minyak dunia semakin mahal, dan mengakibatkan inflasi meningkat lebih tinggi.
"Artinya akan ada lonjakan defisit anggaran sekitar Rp 0,8 triliun setiap Rp100 per dolar AS. Ini menggambarkan tekanan dari perang antara Iran dan Amerika ini sangat berat bagi kita yang akan mempengaruhi kemampuan pemerintah untuk menjaga agar asumsi makroekonomi tidak bergerak jauh dari asumsi APBN yang ditetapkan di tahun lalu," beber Abdul.

