Rupiah Tertekan ke Rp 16.568 per Dolar AS, Dipicu Sentimen Global dan Domestik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Nilai tukar rupiah kembali terpuruk pada perdagangan Jumat (19/9/2025). Berdasarkan data Bloomberg pagi ini, rupiah melemah ke posisi Rp 16.568 per dolar AS atau turun 40 poin atau -0,25%, dibandingkan pembukaan pagi di Rp 16.476 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah terjadi setelah The Federal Reserve memangkas suku bunga 25 basis poin menjadi 4%-4,25%, yang membuat dolar AS semakin perkasa di Asia. Dolar AS menguat terhadap won Korea Selatan (0,43%), ringgit Malaysia (0,29%), dolar Singapura (0,06%), dan yuan China (0,02%). Namun, yen Jepang dan baht Thailand justru menguat tipis masing-masing 0,01% dan 0,1% terhadap dolar AS. Indeks Dolar (DXY) Bloomberg juga menunjukkan kenaikan ke level 97,41.
Baca Juga
Genjot Transformasi Bisnis, Saham DSSA Layak Dihargai Segini
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, memproyeksikan pergerakan rupiah berada di kisaran Rp 16.437–Rp 16.545 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Sementara itu, keputusan Bank Indonesia memangkas BI Rate sebesar 25 bps turut menambah tekanan terhadap rupiah.
Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menilai pelemahan rupiah dipicu beberapa faktor, termasuk isu independensi Bank Indonesia setelah program burden sharing untuk pendanaan pemerintah. “Ini menjadi sentimen negatif bagi pasar,” ujar Sutopo.
Baca Juga
IHSG Dibuka Melemah ke Bawah 8.000, Sebaliknya Tiga Saham Dipimpin FISH Cetak ARA
Selain itu, kondisi finansial domestik dan ketidakstabilan politik juga memperburuk sentimen, terutama pasca pencopotan Sri Mulyani Indrawati dari kursi Menteri Keuangan yang memicu kehati-hatian investor. Sutopo menambahkan, meski pemangkasan BI Rate menjadi 4,75% bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi, justru membuat rupiah kurang menarik di mata investor asing.

