BRI Outlook: Daya Beli Kelas Atas Pun Merosot
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Tim ekonom Bank Rakyat Indonesia (BRI) menyebut pelemahan daya beli akan menjadi tantangan untuk mewujudkan pertumbuhan sesuai target pemerintah pada 2025 dan 2026. Pelemahan daya beli bukan hanya melanda kelas menengah bawah, tapi juga mulai menggerogoti kelas atas.
Data tim ekonom BRI menunjukkan bahwa Indeks Daya Beli kelas menengah dan bawah berada di bawah 0 pada periode Januari dan Juni 2025.
Pada Januari 2025, daya beli kelas atas masih tumbuh. Tapi, grafik menunjukkan, daya beli kelas atas turut melorot pada Juni 2025.
“Meskipun persepsi konsumen masih berada pada zona optimis, terdapat pelemahan sentimen secara bertahap, seiring dengan tekanan daya beli dan ketidakpastian ekonomi domestik maupun global,” bunyi laporan tim ekonom BRI dalam "BRI Economic Outlook 2026" yang dipimpin, Anton Hendranata, diakses Selasa (13/1/2026).
Daya beli masyarakat yang melemah ini mempengaruhi pertumbuhan kredit konsumsi. Selama setahun terakhir, Oktober 2024 hingga Oktober 2025, pertumbuhan kredit anjlok. Pada Oktober 2024, pertumbuhan kredit konsumsi mencapai 10,37% secara tahunan dengan non performing loan atau NPL di posisi 2,02%. Sementara itu, pada Oktober 2025, pertumbuhan kredit konsumsi mencapai 7,03% secara tahunan dengan NPL di posisi 2,37%.
“Ini menunjukkan bahwa permintaan kredit konsumsi melambat, baik dari sisi daya beli masyarakat maupun preferensi bank yang lebih selektif,” bunyi laporan tersebut.
Melihat kondisi daya beli ini, tim ekonomi BRI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada 2025 di bawah target APBN 2025 yang sebesar 5,2%. BRI menempatkan rentang pertumbuhan ekonomi pada posisi 4,96% hingga 5,08%.
“Daya beli kelas menengah-bawah diperkirakan masih relatif terbatas, menghambat konsumsi rumah tangga,” bunyi laporan tersebut.
Pada 2026, tim ekonom BRI memberi catatan mengenai target pertumbuhan ekonomi yang dipatok pemerintah sebesar 5,4%. Angka ini jauh di atas proyeksi IMF dan Bank Dunia yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam banderol moderat yaitu di rentang 4,7%-4,9%.
“Terdapat beberapa faktor yang perlu diwaspadai yaitu perlambatan permintaan China, kebijakan tarif AS, tensi geopolitik, hingga melemahnya daya beli kelas menengah bawah,” kata laporan itu.
Catatan BRI yaitu pemerintah perlu memperhatikan risiko peningkatan defisit apabila realisasi penerimaan pajak berada di bawah target. Kondisi ini terjadi pada 2025. APBN 2025 mencatat penerimaan pajak hanya 87,6% dari target atau Rp 1.917,6 triliun.
Baca Juga
Daya Beli Melemah dan Kelas Menengah Menyusut Tekan Penjualan Mobil Nasional
Tertolong Proyek Prioritas
Meski begitu, ada rasa optimistis yang digaungkan BRI. Menurut BRI, dengan menggunakan input-output tahun 2020 dan bantuan deep learning model, proyeksi tambahan realisasi anggaran proyek prioritas atau strategis nasional pada 2026 yang sebesar Rp 304,1 triliun dapat mengerek pertumbuhan ekonomi.
Proyek seperti makan bergizi gratis atau MBG, Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan atau FLPP, sekolah rakyat, dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) mampu menambah pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 0,35% poin dari baseline 2026.
“Artinya jika PSN 2026 efektif, maka dapat berdampak positif bagi perekonomian sehingga akan turut berkontribusi positif pula kepada pertumbuhan kredit dan DPK perbankan,” bunyi laporan tersebut.
Baca Juga
Daya Beli Melemah, Perbankan Harap Pemerintah Gelontorkan Belanja Negara

