Daya Beli Melemah, Perbankan Harap Pemerintah Gelontorkan Belanja Negara
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) memperkirakan, pelemahan daya beli di Indonesia masih akan berlanjut tahun depan. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan berharap, pemerintah segera meningkatkan realisasi belanja negara untuk mendongkrak daya beli.
“Faktor daya beli tahun ini juga belum (naik), mungkin salah satu kami sampaikan bahwa ini tidak oke dan tahun depan prediksinya belum bisa kembali normal. Belanja negara memang harus mulai digelontorkan,” ucap Lani dalam pembukaan Journalist Class & Workshop CIMB Niaga, baru-baru ini.
Dalam memproyeksi tantangan ekonomi di Indonesia pada 2026, manajemen senantiasa mengajak semua pihak untuk berpikir positif. Mengingat, saat ini Indonesia telah memiliki menteri keuangan baru yang pro pertumbuhan.
“Bahkan likuiditas sekarang kalau kita lihat di kuartal pertama (2025) masih agak agak ketat, sekarang longgar,” tegasnya.
Baca Juga
CIMB Niaga Targetkan Spin Off UUS Jadi Bank Syariah Awal Mei 2026
Lani menambahkan, saat ini loan to deposit ratio (LDR) CIMB Niaga masih di kisaran 83%. Seiring penurunan rata-rata LDR perbankan dari kisaran 98% sebelumnya.
Namun tantangan daya beli masih ‘menghantui’. Bila anggaran belanja pemerintah tidak dikucurkan maka proyek yang berjalan akan berkurang, sekaligus penyerapan tenaga kerjanya. Alhasil daya beli terus melemah.
“Menurut Apindo, betul ternyata daya beli memang tidak oke. Dari sisi retailer sudah terlihat bahwa masyarakat Indonesia, beralih ke produk sachet karena berhemat. Pabrik-pabrik merespons dengan bikin kemasan kecil-kecil agar survive,” ungkapnya.
Dari sudut pandang pengusaha yang merupakan nasabah CIMB Niaga, ditemukan fakta bahwa mereka menunda investasi, seperti untuk memperluas pabrik atau menambah produksi.
Baca Juga
Perkuat Finansial Lintas Generasi, Sun Life dan CIMB Niaga Kenalkan 2 Produk Baru
Hal itu tak serta merta akibat kekurangan dana, namun pemodal diperkirakan khawatir, ekspansi yang dilakukan tidak terserap pasar karena konsumen juga terlihat menahan pembelian.
Lani pun menyebut, proyeksi ekonomi Indonesia tahun depan baru akan jelas setelah memasuki semester II 2026. Sedangkan pertumbuhan ekonomi pada paruh pertama diprediksi masih sama dengan saat ini.
“Namun tentu saja kita lihat apakah belanja negara akan betul-betul digelontorkan sehingga project dan sectorial bisa maju,” pungkasnya.

