Daya Beli Melemah dan Kelas Menengah Menyusut Tekan Penjualan Mobil Nasional
Poin Penting
|
BANDUNG, investortrust.id – Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI), Riyanto, menilai pasar otomotif Indonesia mengalami stagnasi dalam satu dekade terakhir. Tekanan semakin berat setelah pandemi Covid-19 melanda.
Berdasarkan data yang dipaparkan, penjualan kendaraan roda empat nasional turun signifikan dari puncak sebesar 1,22 juta unit pada 2013 menjadi sekitar 866.000 unit pada 2024.
Baca Juga
Toyota: Penjualan Mobil 2026 Tergantung Kebijakan dan Daya Beli Publik
Menurut Riyanto, penurunan pasar otomotif di Tanah Air terutama disebabkan melemahnya daya beli masyarakat. Harga mobil yang semakin tinggi tidak sebanding dengan pendapatan masyarakat.
“Intinya sebenarnya satu, daya beli. Harga mobil memang lebih tinggi daripada pendapatan masyarakat secara umum. Kenapa pendapatannya turun? Satu, pertumbuhan ekonomi kita cuman 5%, kadang kurang, kadang lebih dikit 5%,” ujar Riyanto dalam Media Workshop di Bandung, Jumat (9/1/2026).
Ia menambahkan, penyusutan jumlah masyarakat kelas menengah juga memperburuk pasar otomotif. Kelompok tersebut menurun 5–7 juta orang pada 2019, dan turun lebih dalam 9–10 juta orang pada 2024.
Baca Juga
Pengamat Ungkap Alasan Mobil 'Hybrid' Berpotensi Geser EV Impor di 2026
“Yang lebih tajam lagi sebenarnya adalah kelompok menengah kita turun di 2024 itu turun kira-kira 9–10 juta. Jadi 47 juta. Kelompok ini biasanya ganti mobil cepat, 3–5 tahun, namun sekarang lebih lama,” terangnya.
Selain itu, kelompok pembeli mobil pertama (first buyer) semakin tertunda dalam membeli mobil baru dan beralih ke mobil bekas yang lebih terjangkau.
“Jadi kelompok inilah yang kira-kira kalau kita petakan menjadi penyebab kenapa market ini menurun. Bahkan kalau dibandingkan 2013 turunnya sekitar kira-kira 30%, dan sebenarnya marketnya tumbuh kalau dilihat market dengan mobil bekas juga sampai 2024,” jelas Riyanto.

