Ekonomi Ditopang Konsumsi Kelas Menengah Atas, Pemerintah Diminta Dorong Daya Beli Semua Lapisan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pertumbuhan konsumsi rumah tangga di kuartal II 2025 tercatat masih ditopang oleh konsumsi kelas menengah atas, seiring tingginya pengeluaran untuk sektor leisure saat momen libur panjang.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengungkapkan, belanja masyarakat menengah atas untuk rekreasi, transportasi, dan akomodasi meningkat signifikan, bahkan melampaui belanja makanan, minuman, pakaian, maupun perlengkapan rumah tangga.
Fenomena ini, kata dia, juga terkait dengan pergeseran perilaku generasi muda. “Gen Z dan milenial mengurangi spending barang tahan lama, tapi mereka memprioritaskan leisure spending-nya agar tetap bisa jalan-jalan, nonton konser, dan sebagainya,” ujar Josua, dalam Media Briefing Virtual PIER Economic Review: Semester I Tahun 2025, Senin (11/8/2025).
Baca Juga
Kepala BPS Jawab Keraguan Publik Soal Pertumbuhan Ekonomi 5,12%
Menurutnya, kelompok berpenghasilan tinggi berkontribusi 40% terhadap total konsumsi nasional, diikuti kelompok menengah sebesar 40%, dan kelompok berpenghasilan rendah kurang dari 20%. Artinya, kelompok terakhir tidak terlalu berkontribusi terhadap konsumsi nasional.
“Ini juga inisiatif pemerintah maupun intervensi kebijakan pemerintah lebih banyak diarahkan kepada kelas menengah, memang karena yang bisa mengakselerasi spending itu kelas menengah. Oleh karena itu, masyarakat berpenghasilan rendah ini menjadi salah saatu yang wajib di support oleh pemerintah,” kata Josua.
Setali tiga uang, Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank Faisal Rachman mengatakan, kelompok menengah atas memiliki ruang belanja untuk kebutuhan sekunder dan tersier karena kebutuhan primernya sudah terpenuhi. Sementara, kelompok menengah bawah cenderung fokus pada kebutuhan primer.
“Kalau kita hanya mengandalkan konsumsi kelas menengah atas, pertumbuhan ekonomi tidak akan bergerak di atas 5%. Untuk mencapai 6%-8%, daya beli kelas menengah bawa harus ikut naik sehingga belanja mereka bergeser dari primer ke sekunder,” ucapnya.
Baca Juga
Permata Bank Bukukan Laba Rp 1,6 Triliun, Kredit Tumbuh 7,4% di Semester I 2025
Ia tak menampik timbulnya fenomena down trading, beralih ke barang lebih murah, barang bekas, atau bahkan produk ilegal, yang dapat menghambat multiplier effect terhadap ekonomi, jika daya beli kelas menengah ke bawah tak diperkuat.
“Memang kalau di semester dua ini pemerintah itu fokusnya harus menjaga daya beli, tingkat konsumsi rumah tangga, juga fokusnya tidak hanya yang dari golongan menengah bawah, tapi juga kelas menengahnya harus dijaga,” ujar Faisal
Sementara itu, Head of Industry & Regional Research Permata Bank Adjie Harisandi menjelaskan bahwa daya beli kelas menengah atas masih kuat, antara lain dari penjualan mobil di atas Rp 500 juta yang tetap tumbuh dan lonjakan penjualan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) yang umumnya menjadi mobil kedua.
”EV notabene adalah kendaraan yang pasti biasanya akan kecenderungannya akan dimiliki oleh kelas menengah atas dan ini biasanya mobil kedua lah,” katanya.
Ketiga ekonom Permata Bank kompak, bahwa menjaga daya beli masyarakat, baik menengah atas maupun menengah bawah harus menjadi fokus pemerintah di semester II 2025. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan lebih merata.

