Belanja Negara 'On Track', Terbesar untuk Belanja Pegawai dan Bayar Bansos
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menjelaskan anggaran yang sudah digunakan untuk belanja negara mencapai Rp 2.911,8 triliun atau 82,5% dari outlook APBN 2025. Angka belanja ini menyamai pendapatan negara sebesar Rp 2.351,5 triliun atau 82,1% outlook APBN 2025.
“Ini berarti cukup balance antara pendapatan dengan belanjanya,” kata Suahasil, saat konferensi pers APBN KiTa edisi Desember 2025, di kantornya, Jakarta, Kamis (18/12/2025).
Suahasil menjelaskan realisasi belanja tersebut terdiri dari belanja kementerian/lembaga (K/L) sebesar Rp 1.110,7 triliun atau 87,1% dari outlook APBN 2025 dan belanja non-K/L sebesar Rp 1.005,5 triliun atau 72,5% dari outlook APBN 2025.
Belanja K/L tersebut digunakan untuk membayar belanja pegawai sebesar Rp 289,8 triliun atau 95,1% outlook. Angka tersebut naik 9,3% secara tahunan.
“Karena memang terjadi peningkatan jumlah pegawai kita,” kata dia.
Baca Juga
Penerimaan Pajak Lesu, Defisit APBN Mencapai Rp 560,3 Triliun
Belanja barang tumbuh 1,3% secara tahunan atau mencapai Rp 404,5 triliun. Percepatan belanja barang terjadi setelah masa efisiensi anggaran. Komponen belanja lainnya yaitu belanja modal, mencapai Rp 249,6 triliun atau 72,5% dari outlook.
Selain itu, realisasi terbesar dari belanja K/L yaitu pemberian bansos. Realisasi bansos telah mencapai Rp 166,8 triliun atau 72,5% dari outlook.
“Cukup tinggi karena pemerintah terus menyalurkan stimulus-stimulus fiskal untuk membantu konsumsi dan daya beli masyarakat,” ujar dia.
Sementara itu, belanja non K/L yang tinggi karena terdapat pembayaran pensiun yang sebesar Rp 166,6 triliun. Ini terjadi karena kenaikan 100.000 ribu orang pensiunan baru pada 2025 yang menjadi 3,73 juta orang.
Baca Juga
Wamenkeu Suahasil Ungkap Penerimaan Pajak, Jauh dari Target Outlook APBN 2025
Penyaluran Listrik Bersubsidi
Suahasil mengatakan hingga November 2025, pemerintah telah membayar Rp 345,1 triliun untuk subsidi dan kompensasi. Artinya, pembayaran tersebut sudah mencapai 72,6% dari target APBN 2025.
Dari pembayaran tersebut, sudah direalisasikan 15.613,8 ribu kiloliter BBM. Ini 80,4% dari target penyaluran BBM bersubsidi. Realisasi penyaluran untuk LPG 3 kilogram juga telah mendekati target yang mencapai 7.092,1 juta kilogram atau 86,8% dari target.
Penyaluran pupuk telah mencapai 7,5 juta ton atau 84,3% dari target APBN 2025 yang sebesar 8,9 juta ton. Sementara itu, penyaluran listrik bersubsidi telah dinikmati oleh 42,6 juta pelanggan. Angka ini melebihi target penikmat subsidi yang mencapai 42,1 juta pelanggan.
“Ini artinya pelanggan kategori 450 Volt Ampere dan kategori 900 Volt Ampere ini meningkat terus setiap tahun. 2023 tumbuh 2,5%, 2024 tumbuh 4,3% dan di 2025 tumbuh lagi 2,6%” ujar dia.

