Hari Pahlawan Jadi Momen Rupiah Bersinar Imbas Dolar AS Melemah
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Hari Pahlawan, Senin (10/11/2025), di tengah melemahnya indeks dolar global. Penguatan ini menjadi sinyal positif bagi stabilitas ekonomi domestik, meski ketidakpastian global masih membayangi.
Data Bloomberg menunjukkan, rupiah menguat 23 poin atau 0,14% ke posisi Rp 16.667 per dolar AS. Sementara itu, Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, turun ke level 99,66 berdasarkan data TradingView.
Baca Juga
Meski dolar AS melemah secara umum, mata uang tersebut masih menguat terhadap euro dan poundsterling. Nilai tukar dolar AS terhadap euro naik 0,08%, sementara terhadap poundsterling menguat 0,12%. Kondisi berbeda terjadi di Asia. Dolar AS justru melemah terhadap sejumlah mata uang utama kawasan, seperti yuan China (-0,03%), won Korea Selatan (-0,33%), dan baht Thailand (-0,02%). Namun, terhadap yen Jepang, rupee India, dan dolar Singapura, dolar AS masih mencatat penguatan moderat.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menjelaskan, penguatan rupiah tak lepas dari ekspektasi pasar bahwa inflasi AS akan turun. “Pasar memperkirakan inflasi AS turun ke 3,2% pada Oktober 2025 dari 3,4% di bulan sebelumnya. Ekspektasi inflasi jangka menengah juga stabil di 3%, menunjukkan pandangan ekonomi yang tetap terkendali,” ujarnya, Senin.
Shutdown AS
Meski Pemerintah AS masih menghadapi kondisi shutdown, data aktivitas manufaktur dan jasa menunjukkan sinyal ketahanan ekonomi. Indeks Institute for Supply Management (ISM) sektor jasa masih tumbuh, memperkuat pandangan bahwa daya tahan ekonomi AS belum luntur.
“Selama aktivitas ekonomi AS tetap positif, tekanan pada dolar cenderung terbatas. Namun, ini membuka peluang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat jangka pendek,” tambah Andry.
Di sisi lain, pasar saham Eropa pada Jumat (7/11/2025) ditutup melemah, dengan indeks CAC 40 Prancis turun 0,18% ke 7.950,18 dan DAX Jerman melemah 0,69% ke 23.569,96. Tekanan ini turut memengaruhi sentimen investor global terhadap aset berisiko.
Baca Juga
Dari dalam negeri, imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah Indonesia tenor 10 tahun naik tipis 1,2 basis poin (bps) menjadi 6,19%. Sementara itu, yield obligasi pemerintah berdenominasi dolar AS dengan tenor sama justru turun 1,1 bps ke 4,9%.
Pergerakan ini menandakan investor asing mulai kembali masuk ke pasar surat utang domestik, seiring dengan meningkatnya keyakinan terhadap stabilitas rupiah. Pasar memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp 16.665–Rp 16.700 per dolar AS dalam jangka pendek.

