Kurs Rupiah Melesat Imbas Dolar Melemah, Tembus Rp 15.952/USD
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah ditutup menguat, imbas dari pelemahan indeks dolar Amerika Serikat dalam perdagangan Kamis (8/8/2024) sore yang tengah tren melemah. Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), kurs rupiah melesat 148 poin hingga tembus ke level Rp 15.952/USD, dibanding kemarin yang ditutup di posisi Rp 16.100/USD.
Dalam pantauan di pasar spot valas yang dilansir Yahoo Finance, kurs mata uang Garuda juga tampak perkasa terhadap dolar AS. Hingga pukul 15.45 WIB, rupiah bergerak menguat 139 poin ke level Rp 15.890/USD, dibanding sebelumnya bertengger di posisi Rp 16.029/USD dalam penutupan perdagangan kemarin.
“Terkait tren indeks dolar yang melemah, investor sedang gundah gulana melirik prospek perekonomian AS. Ini di antaranya tingkat pengangguran yang masih tinggi, inflasi yang belum kunjung mereda, sampai ada kekhawatitan bahwa ekonomi AS terancam resesi,” kata analis PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam keterangan di Jakarta, Kamis (8/8/2024).
Baca Juga
Ia menuturkan, investor mengharapkan Federal Reserve (The Fed) segera menurunkan suku bunga acuan di negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu.
September, Bunga Turun 50 Bps
Ibrahim mengatakan, investor tengah meningkatkan posisinya pada potensi The Fed untuk menurunkan suku bunga, setelah pertemuan Bank Sentral AS secara mendadak pada Rabu pekan lalu. Pada pertemuan tersebut, Ketua The Fed Jerome Powell mengisyaratkan penurunan suku bunga pada September 2024 dapat terjadi.
"Pernyataan tersebut kemudian diikuti rilis data pasar tenaga kerja yang lemah pada hari Jumat pekan yang sama. Pasar swap memperkirakan penurunan suku bunga The Fed hampir 50 basis poin pada September 2024," ungkapnya.
Baca Juga
Kelas Menengah Turun 8,5 Juta, Masih Dibebani Kenaikan Pajak
Fenomena Trump Trade
Kemudian ia menjelaskan, peran tradisional dolar AS sebagai aset safe-haven akan selalu dapat kembali muncul, jika pasar terus goyah atau ancaman geopolitik di Timur Tengah meningkat. Begitu pula dengan kembalinya fenomena Trump trade, yaitu menaruh dana pada aset seperti dolar AS atau Bitcoin, yang dipandang mendapat manfaat dari kebijakan fiskal yang lebih longgar dan tarif impor yang lebih tinggi jika Donald Trump kembali terpilih sebagai presiden AS.
Sementara di Asia, para pembuat kebijakan di Bank of Japan (BoJ) menunjukkan bahwa bank sentral masih melihat ruang untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut. Pernyataan yang dirilis pada hari Kamis menyebut bahwa suku bunga harus mencapai sekitar 1% untuk mencapai tingkat yang netral bagi perekonomian.
Selain itu, rilis data perdagangan Cina pada hari Rabu terus memberi gambaran ekonomi yang suram, karena surplus perdagangannya menyusut jauh lebih banyak dari yang diharapkan di Juli 2024. Ekspor secara tak terduga menyusut, setelah Uni Eropa mengenakan tarif tinggi pada kendaraan listrik Cina. "Sementara impor tembaga dan minyak Cina juga turun tajam," imbuhnya.

