DBS Ungkap Peluang Investasi Kuartal III-2025: Emas Bersinar, Dolar Melemah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank DBS Indonesia memaparkan strategi investasi kuartal ketiga 2025 dengan fokus pada pergeseran besar dalam lanskap keuangan global.
Chief Investment Officer (CIO) DBS Hou Wey Fook menyampaikan di tengah penguatan mata uang non dolar dan penurunan harga komoditas, inflasi global mulai mereda. Namun, ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan mitra utamanya masih berlanjut.
“Lonjakan harga minyak akibat konflik Israel-Iran dinilai berdampak terbatas bagi pasar global, dan fokus pasar kini kembali pada risiko inflasi serta perlambatan pertumbuhan di Eropa dan Jepang,” ujar Hou Wey Fook di Jakarta, Senin, (7/7/2035).
Ia mengaku DBS tetap percaya diri terhadap saham sektor teknologi AS, terutama seiring kemajuan kecerdasan buatan (AI). Namun untuk jangka pendek, CIO DBS ini menyarankan untuk ambil posisi netral, dengan penambahan bobot pada pasar saham Eropa dan Asia non-Jepang mengingat kombinasi dorongan fiskal, imbal hasil dividen yang menarik, dan valuasi yang telah terdiskon.
“Di sisi obligasi, meningkatnya risiko stagflasi dan volatilitas membuat DBS merekomendasikan obligasi peringkat menengah dan obligasi pemerintah AS yang terlindungi inflasi, dengan strategi durasi antara 2–3 tahun dan 7–10 tahun,” tuturnya.
Baca Juga
Bidik Nasabah Tajir, Bank DBS Gandeng Manulife Rilis Produk Asuransi Perencanaan Warisan
Selain itu, kebijakan suku bunga dan pelemahan dolar AS menjadi perhatian utama seiring meningkatnya kekhawatiran fiskal. Gaya kepemimpinan Trump yang kontroversial menurut Fook turut mengikis kepercayaan pada dolar sebagai aset cadangan utama dunia.
“Dalam konteks ini, mata uang alternatif dan safe haven diprediksi menjadi pemenang,” bebernya.
Sementara itu, emas tetap menjadi primadona karena didukung oleh pembelian bank sentral, diikuti oleh aset alternatif lainnya seperti hedge fund, obligasi privat, dan infrastruktur. DBS juga menyoroti sektor-sektor tematik masa depan seperti humanoid, otomasi industri, pertahanan, dan luar angkasa yang dinilai strategis di tengah tren reshoring dan peningkatan kemandirian industri global.
Di sisi lain, ketidakpastian fiskal AS, reformasi pajak besar-besaran, dan kenaikan utang federal memicu penurunan peringkat kredit dan meningkatnya premi risiko atas aset keuangan AS. “Kebijakan tarif yang agresif justru dinilai membahayakan perdagangan global dan tidak cukup untuk menutupi pembiayaan bunga utang,” terang dia.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, DBS menyarankan tiga langkah utama yakni pertama, mempertahankan sikap netral terhadap saham dengan fokus pada sektor teknologi dan jasa. Kedua, menurunkan peringkat obligasi negara maju karena kekhawatiran fiskal dan inflasi. Ketiga, memperbesar alokasi pada aset alternatif seperti emas, yang ditargetkan mencapai US$ 3.765 per ons di akhir 2025.
“Tiga tema besar yang mendominasi strategi DBS pada kuartal III-2025 meliputi deeskalasi tarif yang pragmatis, perbedaan kinerja saham antar wilayah, dan tekanan fiskal yang merugikan obligasi tetapi menguntungkan logam mulia,” ucap Hou Wey Fook.

