Rupiah Terseret Tekanan Global, Dolar AS Menguat di Tengah Kontraksi Manufaktur
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (4/11/2025) pagi seiring dengan penguatan mata uang Negeri Paman Sam di pasar global.
Pada pukul 09.36 WIB, rupiah tercatat melemah 56 poin atau turun 0,34% ke posisi Rp 16.732 per dolar AS. Sementara itu, dolar AS menunjukkan performa kuat terhadap sejumlah mata uang utama Asia, termasuk yuan China yang turun 0,04%, won Korea Selatan sebesar 0,57%, dan ringgit Malaysia sebesar 0,15%.
Di sisi lain, dolar AS juga menguat terhadap dua mata uang utama dunia, yakni euro dan poundsterling Inggris, masing-masing naik 0,1% dan 0,13%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan bergerak pada kisaran Rp 16.598 – Rp 16.678 per dolar AS. dalam jangka pendek. Menurutnya, pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh sentimen global, terutama dari arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Baca Juga
“Sentimen pasar masih berkutat pada arah perekonomian AS. Probabilitas pasar untuk pemangkasan suku bunga tambahan pada Desember 2025 turun tajam menjadi sekitar 68% dari sekitar 90% sebelum pertemuan,” ujar Andry.
Pelemahan ekspektasi pemangkasan suku bunga ini turut mendorong dolar AS tetap tangguh di tengah perlambatan sektor manufaktur AS.
Sektor Manufaktur AS Masih Tertekan
Data terbaru menunjukkan Indeks ISM Manufacturing PMI AS turun menjadi 48,7 pada Oktober 2025 dari 49,1 pada bulan sebelumnya, di bawah perkiraan pasar sebesar 49,5. Angka di bawah 50 menandakan kontraksi ekonomi, dan ini menjadi bulan kedelapan berturut-turut sektor manufaktur AS berada di wilayah kontraksi.
Penurunan tersebut mencerminkan melemahnya aktivitas produksi, serta penurunan pesanan baru, persediaan, dan tumpukan pesanan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan prospek pertumbuhan ekonomi global, yang pada gilirannya menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Baca Juga
Gubernur BI Beri Sinyal Rupiah Digital Akan Jadi Stable Coin Resmi Indonesia
Sementara itu, sentimen pasar global turut dipengaruhi oleh langkah China yang akan mencabut pembatasan ekspor atas logam tanah jarang (rare earth) dan mengakhiri penyelidikan terhadap perusahaan semikonduktor AS sebagai bagian dari kesepakatan dagang baru antara kedua negara.
Berdasarkan pakta tersebut, Beijing akan menerbitkan lisensi ekspor umum untuk sejumlah komoditas strategis, seperti logam tanah jarang, gallium, germanium, antimon, dan grafit. Kebijakan ini dinilai sebagai sinyal positif bagi stabilitas rantai pasok global. Nnmun di sisi lain juga menambah volatilitas jangka pendek di pasar keuangan karena perubahan dinamika perdagangan global antara dua ekonomi terbesar dunia itu.

