Ekonom UI Prediksi BI Tahan BI Rate untuk Jaga Stabilitas Rupiah
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Bank Indonesia (BI) diproyeksikan akan menahan suku bunga acuannya, BI Rate, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober 2025. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Teuku Riefky keputusan tersebut krusial untuk meredam tekanan terhadap rupiah sekaligus menjaga persepsi positif terhadap independensi bank sentral.
“Menjaga suku bunga tetap, dibandingkan menurunkannya, tidak hanya meredakan tekanan pada rupiah, tetapi juga dapat memperbaiki persepsi mengenai independensi BI,” ujar Riefky dalam keterangan resminya, Selasa (21/10/2025).
Baca Juga
BI Rate Dipangkas Jadi 4,75%, Bank Mandiri Siap Turunkan Suku Bunga Kredit
Riefky menyoroti bahwa keputusan The Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat (AS) menurunkan suku bunga acuannya pada September 2025 dari 4,5%–4,75% menjadi 4,25%–4,5% tidak diikuti dengan arus modal masuk ke pasar negara berkembang.
Menurut Riefky, justru terjadi arus modal keluar besar-besaran dari Indonesia. Kondisi ini diperparah oleh faktor eksternal, seperti potensi penutupan pemerintahan AS (government shutdown), ancaman tarif impor 100% terhadap China, serta meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang membuat investor global beralih ke aset aman atau safe haven.
Dari sisi domestik, tekanan pada rupiah juga dipicu langkah BI sebelumnya yang memangkas BI Rate pada September 2025. Keputusan tersebut, bersamaan dengan kebijakan burden sharing antara pemerintah dan BI, serta pemangkasan 100 basis poin terhadap fasilitas simpanan dan pinjaman (deposit lending facility) sejak Juli 2025, menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor. “Pasar melihat dominasi fiskal terhadap kebijakan moneter meningkat, sehingga muncul persepsi berkurangnya independensi BI,” jelas Riefky.
Riefky mencatat bahwa investor asing mencatat aksi jual bersih surat utang negara (SUN) senilai US$ 1,88 miliar (sekitar Rp 30 triliun) sejak 17 September hingga 17 Oktober 2025.
Meski terjadi arus keluar cukup besar, imbal hasil surat berharga negara (SBN) justru turun. Imbal hasil SBN tenor 10 tahun menurun 34 basis poin menjadi 6,06%, sementara obligasi tenor 1 tahun turun 26 basis poin menjadi 4,71%. Kondisi ini menunjukkan pasar masih memiliki kepercayaan terhadap stabilitas jangka panjang instrumen utang pemerintah.
Baca Juga
Tekanan Eksternal dan Pemangkasan BI Rate Dorong Rupiah Terkoreksi
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro memiliki pandangan serupa. Ia menilai BI akan menahan BI Rate sambil mencermati perkembangan nilai tukar dan transmisi kebijakan moneter sebelumnya. “Upaya mempertahankan suku bunga ini muncul karena BI akan melihat perkembangan volatilitas nilai tukar rupiah terakhir, dan memastikan lagi transmisi kebijakan moneter dari pemangkasan sebelumnya,” ujar Andry kepada Investortrust.id.
Menurut Andry, langkah hati-hati ini menunjukkan BI berupaya menyeimbangkan dua hal, yakni menjaga stabilitas makroekonomi dan memastikan efektivitas kebijakan moneter agar tidak kontraproduktif terhadap pertumbuhan ekonomi.

