BI Perkuat Stabilitas Rupiah, Agresif Beli SBN dan Longgarkan Likuiditas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Bank Indonesia (BI) terus memperkuat upaya stabilisasi nilai tukar rupiah melalui langkah agresif di pasar keuangan, termasuk pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dan intervensi di pasar valas.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, intervensi dilakukan di pasar off-shore melalui Non Deliverable Forward (NDF) serta di pasar domestik lewat transaksi spot dan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF). Selain itu, BI juga aktif membeli SBN di pasar sekunder untuk menjaga kestabilan likuiditas.
“Hingga 21 Oktober 2025, pembelian SBN oleh BI mencapai Rp 268,36 triliun atau naik 23,61% dari posisi September 2025 sebesar Rp 217,1 triliun,” ujar Perry dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Oktober, Rabu (22/10/2025).
Baca Juga
Pemerintah dan BI Evaluasi Aturan DHE SDA, Fokus pada Siklus dan Dampak Valas
Selain pembelian di pasar sekunder, Perry menambahkan, BI berpartisipasi dalam program debt switching dengan pemerintah senilai Rp 199,45 triliun.
BI turut memperkuat daya tarik penempatan dana di Indonesia dengan menetapkan suku bunga instrumen moneter valuta asing yang kompetitif. Dalam waktu bersamaan, BI juga menempuh ekspansi likuiditas melalui penurunan posisi instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dari Rp 916,97 triliun pada awal 2025 menjadi Rp 707,05 triliun per 21 Oktober 2025.
Dari sisi kebijakan makroprudensial, implementasi Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) terus mendorong pertumbuhan kredit dan pembiayaan perbankan. Hingga pekan pertama Oktober 2025, total insentif KLM mencapai Rp 393 triliun.
Baca Juga
Kemenkeu Optimistis Nilai Tukar Rp 16.500 per US$ di Asumsi Makro 2026 Terpenuhi
Rinciannya, insentif tersebut disalurkan kepada bank BUMN sebesar Rp 173,6 triliun, bank umum swasta nasional Rp 174,4 triliun, bank pembangunan daerah Rp 29,1 triliun, dan kantor cabang bank asing Rp 5,7 triliun.
Secara sektoral, KLM difokuskan pada sektor prioritas seperti pertanian, perdagangan, manufaktur, real estate, perumahan rakyat, konstruksi, transportasi, pergudangan, pariwisata, ekonomi kreatif, UMKM, ultra mikro, dan sektor hijau.
Dengan langkah-langkah tersebut, BI menegaskan komitmennya menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global, sekaligus memperkuat sinergi kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

