Presiden Minta Bank Indonesia Longgarkan Likuiditas
JAKARTA, investortrust.id -- Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa pelaku usaha mengeluhkan tentang peredaran uang atau likuiditas yang kering. Untuk itu, Presiden mengimbau agar Bank Indonesia tetap melonggarkan likuiditas sehingga sektor riil tetap bergairah.
“Pengusaha banyak mengeluh, kenapa peredaran uang kering. Jangan-jangan dana BI terlalu banyak dipakai untuk beli SBN, sehingga yang masuk ke sektor riil berkurang,” kata Jokowi pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia di Jakarta, Rabu (29/11/2023) malam..
Presiden juga menyayangkan realisasi belanja negara yang lambat. "Realisasi belanja pemda baru mencapai 64% padahal tinggal tiga minggu. Realisasi belanja pusat juga hanya 74%," tuturnya.
Pada kesempatan ini Presiden mengajak perbankan untuk tetap pruden, tapi jangan terlalu hati-hati sehingga menghambat kredit. “Tolong lebih didorong kreditnya, terutama untuk UMKM, agar sektor riil lebih baik dari tahun lalu,” kata Presiden.
Kepala Negara mengajak semua pihak untuk tetap optimis tetapi tetap waspada terhadap perubahan yang super cepat. “Kita memang perlu mengantisipasi dan cepat merespons perubahan, namun jangan semua terlalu hati-hati, termasuk kredit,” tuturnya.
Presiden menyebut juga bahwa pertumbuhan ekonomi membutuhkan booster. Beberapa strategi yang ditempuh di antaranya adalah hilirisasi mineral dan ekonomi hijau, yang bisa membuka lapangan kerja.
Presiden menyatakan, dari informasi yang dia jaring dari para kepala negara di Timur Tengah, konflik Israel-Palestina tidak bisa ditebak sampai kapan berakhir. “Perang tidak mungkin distop dalam waktu dekat. Maka dampaknya harus diantisipasi, terutama terhadap gangguan pasok global dan harga pangan,” kata dia.
Presiden juga menyebut bahwa dampak perubahan iklim makin terasa. Produksi pangan sedikit menurun. “Ada 22 negara yang membatasi ekspor pangan, termasuk beras yang sangat kita butuhkan,” kata dia.
Tapi Presiden menegaskan bahwa di tengah situasi global yang serba tidak pasti, Indonesia tetap tumbuh dan stabil. “Kita bangga pertumbuhan ekonomi bisa bertahan di kisaran 5%,” tuturnya.
Terkait dengan situasi politik terkini menjelang pemilu, Presiden juga mengimbau masyarakat untuk tidak khawatir. “Negara kita berpengalaman menggelar pemilu damai. Perbedaan itu sesuatu yang biasa. Kita adalah bangsa yang cinta dami, senang harmonis. Mari bersatu untuk Indonesia,” kata Presiden.

