Tak Seperti Saham, Kemenkeu Ungkap Investor Asing justru Agresif Borong SBN
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono menyebutkan aliran masuk modal asing ke pasar surat berharga negara (SBN) masih tinggi hingga kini. Nilai dana masuk atau net buy telah mencapai Rp 22,43 triliun sejak awal tahun hingga per 10 Maret 2025.
“Pemodal asing mencatatkan net buy SBN sebanyak Rp 22,43 triliun awal tahun hingga 10 Maret. Ini menunjukkan kepercayaan investor ke instrumen keuangan Indonesia,” ucap Thomas saat konferensi pers APBN di kantornya, Jakarta, Kamis (13/3/2025).
Baca Juga
Investor Asing Net Sell Rp 897,09 Miliar, Empat Saham Bank Ini Diobral
Sedangan nilai pembelian obligasi pemerintah hingga 10 Maret 2025 mencapai Rp 158,96 triliun. Bank Indonesia (BI) menjadi pembeli utama dari SBN tersebut. BI membeli SBN mencapai Rp 47,07 triliun dan perusahaan asuransi dan dana pensiun menyerap SBN hingga Rp 28,4 triliun.
Investor yang memborong SBN juga dilakukan perbankan sebanyak Rp 23,98 triliun, investor individu senilai Rp 20,74 triliun, investor lain membeli SBN senilai Rp 16,22 triliun, dan serapan reksa dana paling rencah hanya Rp 120 miliar.
Aliran dana asing ke pasar obligasi negara ini berbanding terbalik dengan langkah investor di pasar saham. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pemodal asing telah mencatatkan net sell saham sebanyak Rp 24,27 triliun sejak awal tahun hingga 13 Maret 2025.
Baca Juga
Defisit APBN Tercatat Rp31,2 T, Namun Rupiah Ditutup 'Rebound' atas Dolar AS
Thomas memastikan BI membeli SBN hanya dilakukan di pasar sekunder untuk strategi dan kebutuhan operasi moneter. Berdasarkan ringkasan pembiayaan anggaran Kemenkeu, SBN neto yang dilepas mencapai Rp 238,8 triliun atau 37,2% dari APBN.
Sebelum melepas APBN ini, Kemenkeu telah melakukan prefunding pada awal tahun. Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Suminto mengatakan pembiayaan utang dilakukan dengan prudent.
“Kami telah prefunding Rp 85,9 triliun yang itu akan kurangi issuance 2025,” kata Suminto, awal Januari 2025.

