Genjot Transformasi Bisnis, Saham DSSA Layak Dihargai Segini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Langkah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mempercepat transformasi bisnis dari batubara menuju infrastruktur digital melalui data center, telekomunikasi, hingga pengembangan panas bumi (geothermal) menjadikan prospek saham ini kian menggiurkan. Potensi penguatan harga tetap terbuka, meski telah terjadi lompatan lebih dari 192% year to date (ytd).
Manajemen saham DSSA yang dikendalikan Sinarmas Grup ini mamtok target kontribusi pendapatan non-batubara mencapai lebih dari 30% dalam 3–5 tahun ke depan. Saat ini, segmen batu bara masih menyumbang lebih dari 90% terhadap pada kuartal I-2025.
Baca Juga
10 Emiten Terbesar di BEI, BREN Kukuh di Puncak, DSSA dan DCII Naik Pesat
Sedangkan berdasarkan data perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham DSSA telah melesat lebih dari 192% sepanjang ytd menjadi Rp 109.275 yang menjadikan kapitalisasi pasar (market cap) saham melesat Rp 841,96 triliun. DSSA kini menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar ketiga setelah BREN dan BBCA.
Analis Samuel Sekuritas Jonathan Guyadi dan Juan Harahap, transformasi bisnis DSSA dari sisi telekomunikasi dan teknologi menunjukkan pertumbuhan pesat. Pendapatan diproyeksikan naik 75,1% YoY tahun ini dengan CAGR 67,0% sepanjang 2022–2027. Peningkatan didukung ekspansi homepass dan peningkatan jumlah pelanggan MyRepublic broadband.
Sumber: Samuel Sekuritas
“Melalui ekspansi agresif, DSSA kini menjadi penyedia broadband fiber-to-home terbesar kedua di Indonesia setelah IndiHome milik Telkom. DSSA mencakup lebih dari 70 kota. Pertumbuhan pelanggan melonjak 88,6% YoY pada kuartal I-2025 dan homepass mendekati 7,6 juta,” tulis riset yang diterbitkan di Jakarta, kemarin.
Guna mendukung evolusi telko-tech, perseroan tengah membangun pusat data Tier IV pertama di Jakarta (SMX01) berkapasitas awal 18MW yang ditargetkan beroperasi akhir 2026. Pusat data ini melengkapi 24 lokasi yang ada.
Baca Juga
Saham Sentuh Rekor Rp 100 Ribu, Dian Swastatika (DSSA) ternyata Ekspansif di Energi Hijau
Selain itu, DSSA memanfaatkan sinergi dalam ekosistem Sinar Mas mulai dari kapasitas satelit 310 Gbps, platform fintech dengan lebih dari 100 juta pengguna, hingga potensi kolaborasi dengan PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) guna memperkuat layanan mobilitas dan konektivitas.
Tidak hanya digital, DSSA juga masuk ke energi terbarukan melalui proyek panas bumi dan surya. Portofolio geothermal DSSA berkerja sama dengan EDC mencakup enam lapangan, yaitu di Cipanas, Cisolok, Nage, Jambi, Sumatera Barat, dan Sulawesi Tengah dengan potensi kapasitas 440MW. Pada sisi tenaga surya, DSSA mengoperasikan pabrik solar cell dan modul terintegrasi pertama di Indonesia berkapasitas 1GW (dapat ditingkatkan hingga 2GW) serta mengembangkan proyek PV khusus sebesar 40MWp.
Baca Juga
FTSE Rebalancing Konstituen DSSA Masuk, Sebaliknya Emiten Prajogo Absen
Transformasi bisnis ini mendorong Samuel Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi spec buy saham DSSA dengan target harga Rp 150.000 per saham atau menawarkan potensi kenaikan 56% dibandingkan harga penutupan kemarin.
Target harga tersebut juga mempertimbangkan masuknya saham DSSA dalam MSCI Indonesia Global Standard Index yang bisa berdampak terhadap likuiditas serta minat investor asing. “Kombinasi portofolio telko-tech yang berkembang pesat dan eksposur ke energi terbarukan diyakini menjadi motor pertumbuhan jangka panjang, meski tetap ada risiko terkait perizinan data center, eksekusi proyek energi terbarukan, dan fluktuasi harga batubara,” ujarnya.

