SBN Balik Masuk, Rupiah Rebound Rp 16.799/USD
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah balik menguat terhadap dolar Amerika Serikat dalam pembukaan perdagangan valas Jumat (25/04/2025) pagi, seiring kembali masuknya dana asing ke Surat Berharga Negara (SBN) RI. Berdasarkan data Yahoo Finance, kurs rupiah dibuka menguat signifikan 65 poin (0,38%) di level Rp 16.799 per dolar AS. Mata uang Garuda tercatat melemah kemarin, ke level Rp 16.864 per dolar AS.
Data Yahoo Finance juga menunjukkan, kurs rupiah menguat tajam terhadap hard currency yang lain euro sebesar 138 poin (0,71%), ke level Rp 19.054. Selain itu, kurs rupiah juga menguat 0,67 poin ke level Rp 117,50 terhadap mata uang Jepang, yen.
Menurut Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro, sentimen investor juga didukung oleh harapan potensi pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Hal ini setelah Presiden Fed Cleveland Beth Hammack mengindikasikan langkah tersebut dapat dilakukan paling cepat pada bulan Juni 2025, jika data ekonomi membenarkannya.
"Sementara itu, pasar terus mencerna sinyal beragam dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Ini terutama mengenai penaikan tarif impor dan negosiasi perdagangan dengan Cina," katanya dalam keterangan di Jakarta, Jumat (25/04/2025).
Baca Juga
Yield Obligasi AS Turun
Data lain, imbal hasil UST Note 10 tahun turun 6,63 bps menjadi 4,31% dan terpangkas 25,4 bps year to date. Sementara itu, Indeks dolar AS (DXY) bertahan di sekitar 99,5 setelah melonjak lebih dari 1% pada sesi sebelumnya. Hal ini didukung harapan de-eskalasi perang dagang AS-Cina dan meredanya kekhawatiran tentang independensi Federal Reserve.
Dari sisi sektor riil, penjualan rumah di AS merosot sebesar 5,6% dari bulan sebelumnya, ke tingkat tahunan yang disesuaikan secara musiman sebesar 4,02 juta unit pada Maret. Angka ini meleset dari ekspektasi pasar sebesar 4,13 juta unit, yang menandai penurunan paling tajam dalam lebih dari dua tahun.
Baca Juga
Perusahaan Mark Zuckerberg Meta Kembali PHK Ratusan Karyawan
"Pasar terus menilai masa depan kebijakan perdagangan AS dan bagaimana hal itu akan memengaruhi pertumbuhan dan permintaan asing untuk surat utang AS," tutur Andry.

