Rupiah Melemah Jumat, Dana Asing Masuk Rp 49,62 Triliun di SBN dan Saham 2024
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan valas di pasar spot Jumat (03/01/2025), seiring tren penguatan indeks dolar AS sejak minggu ini. Sementara itu, sepanjang 2024, dana asing tercatat masuk Rp 49,62 triliun di Surat Berharga Negara (SBN) dan saham dalam negeri.
Berdasarkan data Yahoo Finance, pada pukul 09.13 WIB, kurs mata uang Garuda terhadap greenback melemah 25 poin atau 0,15% ke 16.214/USD. Sedangkan indeks dolar AS pada hari ini sedikit terkoreksi 0,22 poin atau 0,20%, namun masih di atas level 109, tepatnya 109,18. Sedangkan pada 31 Desember lalu, DXY ini masih berada di level 108,48.
Sementara itu, berdasarkan data kurs Jisdor Bank Indonesia yang mencatat transaksi rupiah terhadap dolar AS antarbank kemarin, rupiah melemah ke Rp 16.236/USD. Pada perdagangan hari sebelumnya, rupiah masih di level Rp 16.157/USD per 31 Desember 2024.
Baca Juga
Didorong Permintaan ‘Safe Haven’, Emas Naik ke Level Tertinggi dalam Dua Pekan
"Untuk perdagangan Jumat, mata uang rupiah diperkirakan masih fluktuatif. Rupiah diperkirakan ditutup melemah di rentang Rp 16.180 - 16.270/USD," kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Kamis (02/01/2024).
Ia menjelaskan, dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) pada Kamis mengumumkan inflasi mencapai 0,44 % (month to month/mtm) dan 1,57% (year on year/yoy) pada Desember 2024. Dengan hanya mencatat inflasi 1,57%, inflasi 2024 menjadi yang terendah dalam sejarah Indonesia.
"Sebagai catatan, inflasi terendah yang pernah dicatat BPS sebelumnya adalah pada 2020 yakni 1,68%. Rendahnya inflasi 2024 disebabkan sejumlah faktor, mulai dari melemahnya daya beli serta melandainya harga bahan pangan pokok setelah terbang pada 2022 dan 2023," ujarnya.
Dari global, Presiden AS yang akan dilantik 20 Januari Donald Trump telah berjanji untuk mengenakan tarif tambahan pada barang-barang Cina. Hal ini diperkirakan akan memicu potensi perang dagang AS-Tiongkok pada periode kedua Trump menjabat presiden.
Selain itu, pertemuan Federal Reserve pada bulan Desember mengisyaratkan lebih sedikit pemotongan Fed Funds Rate pada tahun 2025. Hal ini dikarenakan inflasi tetap menjadi perhatian utama. "Hal itu selanjutnya meredam prospek di pasar Asia," paparnya.
Korea Selatan juga mengalami krisis politik yang belum pernah terjadi sebelumnya, setelah Presiden Yoon Suk Yeol saat itu mengumumkan darurat militer pada tanggal 3 Desember, yang dengan cepat ditarik kembali karena tekanan parlemen. Selanjutnya, Yoon dimakzulkan dan diskors dari jabatannya pada bulan Desember, dan menghadapi tuduhan pemberontakan dan penyalahgunaan kekuasaan. Pengadilan Seoul telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadapnya.
Di Tiongkok, aktivitas manufaktur mengalami pertumbuhan yang lebih lemah dari yang diantisipasi pada bulan Desember, menurut data indeks manajer pembelian swasta (PMI) yang dirilis pada Kamis. Hal tersebut menunjukkan dampak dari langkah-langkah stimulus baru-baru ini di negara dengan perekonomian terbesar kedua itu memudar. Hasil PMI Caixin juga seirama data pemerintah awal minggu ini, yang mengindikasikan sektor manufaktur berkembang pada bulan Desember tetapi dengan kecepatan di bawah ekspektasi.
Pasar AS Ungguli Global
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro mengatakan, indeks dolar naik ke 109,4, level tertinggi sejak 22 Oktober. Menguatnya dolar didorong oleh ekspektasi pertumbuhan ekonomi AS akan melampaui ekonomi negara lain, sehingga suku bunga tetap tinggi.
Federal Reserve juga tetap berhati-hati dalam memangkas suku bunga dengan cepat, karena inflasi yang terus-menerus di Negeri Paman Sam. Kinerja ekonomi AS yang bagus juga memperkuat sikap tersebut. "Selain itu, kebijakan Presiden Terpilih AS Donald Trump diproyeksikan dapat lebih meningkatkan pertumbuhan dan inflasi," katanya dalam keterangan di Jakarta, Jumat (03/11/2025).
Kekuatan dolar juga didukung oleh arus masuk modal yang kuat, karena pasar saham AS telah mengungguli pasar global. Data terbaru yang menunjukkan penurunan klaim pengangguran memperkuat pandangan pasar kerja yang tangguh, yang selanjutnya mendorong momentum dolar.
Asing Net Buy di SBN 2024
Sementara itu, data terbaru yang dirilis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) adalah transaksi SBN hingga akhir Desember 2024. Non-resident di pasar SBN rupiah yang dapat diperdagangkan mencatatkan pembelian neto Rp 33,09 triliun sepanjang tahun 2024.
Asing juga mencatatkan pembelian neto saham Rp 16,53 triliun sepanjang tahun lalu. Sedangkan pada perdagangan perdana 2025, asing mencatatkan net sell Rp 245,7 miliar.
Baca Juga
IHSG Dibuka Menguat ke 7.189, Sektor Energi Naik Paling Tinggi

