BI Gelar Rapat Dewan Gubernur Hari Ini, Rupiah Dibuka Tertekan
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah tertekan dari dolar Amerika Serikat (AS) dalam pembukaan perdagangan hari ini Selasa (22/4/2025) ini. Berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah bergerak melemah 30 poin (0,18%) ke level Rp 16.829 per dolar AS. Sedangkan dalam penutupan perdagangan kemarin, rupiah ditutup di posisi Rp 16.799 per dolar AS.
Pasar akan menunggu keputusan rapat dewan gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) periode 22-23 April 2025 yang dimulai hari ini terkait arah kebijakan suku bunga acuan BI rate. Pada pertemuan dewan gubernur periode 18-19 Maret 2025, BI mempertahankan BI rate 5,75%. Selain itu, BI juga mempertahankan suku bunga deposit facility 5,00% dan suku bunga lending facility 6,50%
Baca Juga
Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro mengungkapkan, Presiden AS Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell. "Hal ini meningkatkan kekhawatiran atas independensi bank sentral AS," kata dia dalam laporan tertulis, Selasa.
Trump mengkritik Ketua Fed Powell karena terlalu lambat memangkas suku bunga. Namun, pemecatannya Powell tidak bisa dilakukan cepat. Sementara pejabat Gedung Putih mencatat bahwa Trump tengah mencari cara kemungkinan memecat Powell.
Pidato Powell di Chicago juga menambah kecemasan pasar. Dia memperingatkan bahwa tarif dagang dapat memacu inflasi lebih tinggi dan pertumbuhan ekonomi melambat, sehingga menciptakan dilema mandat ganda Fed.
"Pasar terus menilai masa depan kebijakan perdagangan AS dan bagaimana hal itu akan memengaruhi pertumbuhan dan permintaan asing untuk surat utang AS," kata Andry.
Baca Juga
Rupiah Ditutup Menguat usai Indonesia Catatkan Surplus Perdagangan 59 Bulan Beruntun
Dia menilai, ketidakpastian AS di tengah ancaman eskalasi terhadap janji mencapai kesepakatan perdagangan akan mendorong volatilitas di semua kelas aset pada minggu ini.
Investor juga akan mencermati laporan pendapatan global, seperti pesanan barang tahan lama dan penjualan rumah eksisting di AS. Selain itu, pelaku pasar juga mencermati pengukur keyakinan utama di Jerman, Prancis, dan Inggris.

